Fenomena di Indonesia yaitu kebanyakan High Class Undergraduate (anak-anak lulus SMA berpredikat sangat kompeten)  masih memilih profesi lain daripada sebagai guru. Apalagi universitas yang memfasilitasi fakultas keguruan bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan HCU (High Class Undergraduate) masih memilih jurusan kedokteran, engineering, hukum, politik dsb.

Ini sungguh sangat menyedihkan ketika kita melihat para calon guru yang asal-asalan akibat sistem penerimaan yang masih sangat longgar. Asal-asalan bukan berarti bodoh, melainkan tak sadar akan masa depan profesi mereka yaitu sebagai tenaga pengajar sekaligus tenaga pendidik. Dalam proses kuliah pun kebanyakan dari yang asal-asalan ini tidak memahami esensi menuntut ilmu.

Ilustrasi Guru

 

Jika ditelisik lebih dalam, ini diakibatkan karena lingkungan dan skeptisme terhadap sistem pendidikan yang buruk dimata masyarakat Indonesia. Output yang dihasilkan akibat lingkungan ini pun tidak jauh dari kategori buruk. Ketika output yang buruk ini menjadi mahasiswa keguruan, maka ketika ia mengajar juga akan menghasilkan output yang buruk. Ini seperti proses yang lazim dan mendarah daging.

Tapi sebenarnya hal ini bisa diubah dengan menerapkan sistem pendidikan yang inovatif dan kreatif. Sistem pendidikan sekarang (sistem pendidikan konvensional) bak penjara bagi anak. Banyak riset membuktikan bahwa secara psikologis, sekolah konvensional malah mematikan kreatifitas anak. Nampaknya, kita harus banyak belajar dari negara seperti Finlandia dan South Korea untuk urusan ini

 

In South Korea and Finland, it’s not about finding the “right” school.

50 tahun lalu, entah Korea Selatan maupun Finlandia memiliki sistem pendidikan yang sangat buruk. Seperti yang kita tahu, setengah abad yang lalu Korea Selatan masih dilanda civil war, dan Finlandia masih sibuk dengan kekacauan ekonominya.

Sekarang mari kita lihat, kedua negara tersebut menjadi leader dalam bidang pendidikan. They hailed internationally for their extremely high educational outcomes.

THE KOREANS HAVE ACHIEVED A REMARKABLE FEAT: THE COUNTRY IS 100 PERCENT LITERATE. BUT SUCCESS COMES WITH A PRICE.

Mari kita melihat ke Korea Selatan yang sungguh mencengangkan bagaimana perkembangan pendidikannya. Kini mereka mungkin telah satu langkah didepan Finlandia dan berlangkah-langkah didepan Indonesia :).

Namun, pastinya mereka mendapatkan 100% literate termasuk tes critical thinking dan tes analisis tidak semerta-merta turun dari langit. Ada harga yang harus dibayar untuk semua itu. Mental yang telah tertanam pada kultur mereka adalah hard work and diligence above all, there is no excuse for failure. Anak kecil belajar dengan guru, entah itu di sekolah atau di rumah. If you study hard enough, you can be smart enough.

 

Lingkungan Belajar di Indonesia

Ironi ketika mengetahui hasil di PISA yang dapat disimpulkan ketika siswa di Indonesia terbodoh ke 2 dan mereka bahagia. Sebenarnya siapa yang salah? Tentu tidak bijak ketika kita menyalahkan siswa sebagai pemain utama dalam dunia pendidikan. Yang dapat kita salahkan tentu lingkungan yang terbentuk. Tentu lingkungan yang buruk ini terbentuk akibat pola didik orang tua, arahan guru, dan sistem pendidikan yang juga buruk.

Ilustrasi Sekolah

 

Maksud penulis dengan lingkungan yang buruk itu adalah there was always a sense of, “School is something we have to do.” Not of it being something exciting or a real opportunity. Ketika lingkungan mengarahkan bahwa belajar adalah suatu kewajiban, maka siswa akan tertekan, dan tidak mendapatkan esensi ilmu.

Einstein Quote

 

Kemarin sempat juga mendengarkan video dari TED tentang : How School Kill Creativity. Memang layaknya sebuah penjara, sekolah macam konvensional bisa dikatakan secara halus membunuh kreatifitas dan merusak psikologi. Silahkan simak video berikut (subtitle Bahasa Inggris)

Obeservasi Pribadi

Banyak adik kelas yang tanya kepada saya terlepas saya sebagai mahasiswa baru. “Bagaimana cara ngatur waktu kak?”, “Kok aku ngerasa sibuk banget ya”. Ini sebagai dampak dari sibuknya mereka belajar. Datang dari jam 7, pulang jam 3 sore, lanjut bimbel, les segala macem. They spent their time to study all over the day.

Di Finlandia, mereka hanya menghabiskan waktu 600 jam setahun untuk pembelajaran di kelas, sisanya mereka belajar di outdoor + kegiatan ekskul. FYI, rata-rata di negara lain over 1100 jam. Ketika kita ingin mengkambinghitamkan ini salah siapa, penulis hanya menunjuk 2 aktor utama. Guru dan Pemerintah.

Dengan sistem pendidkan di Indonesia yang seperti ini, guru semestinya harus lebih peka dan kreatif untuk membangkitkan semangat belajar anak didik. Sugata Mitra adalah profesor teknologi pendidikan di Newcastle University, pemenang 2013 TED Prize, memperoleh dana 1 juta USD untuk membangun laboratorium sebagai proyek barunya, Sekolah di Awan

Eksperimen Mitra menggambarkan bagaimana 3 aspek inti dari sifat manusia – rasa ingin tahu, jiwa bermain dan kemampuan sosial – dapat berpadu dengan indah untuk memenuhi tujuan dari pendidikan.

  • Curiosity (rasa ingin tahu) menarik anak-anak ke komputer, memotivasi mereka untuk mengeksplorasi.
  • Playfulness (jiwa bermain) memotivasi mereka untuk berlatih banyak keterampilan komputer.
  • Sociability (kemampuan bersosialisasi) memungkinkan pembelajaran seorang anak menyebar seperti api ke puluhan anak-anak lain.

Penyangkalan

Tulisan ini juga tidak ingin menafikan bahwa banyak orang yang mendapat manfaat dari sekolah konvensional.Namun tetap kita tidak dapat dipungkiri (dan telah banyak didukung oleh temuan saintifik) bahwa dorongan dan kemampuan alami generasi muda untuk belajar, sesungguhnya cukup untuk memotivasi pendidikan seumur hidup mereka. Karena pada dasarnya manusia selalu ingin belajar.

Belajar apa saja yang diminati. Belajar di mana saja yang disukai. Belajar kapan saja yang diinginkan. Belajar dari siapa saja yang mencerahkan. Karena belajar itu hak bukan kewajiban. Belajar itu menyenangkan bukan membebani.

– Rumah Inspirasi

 

Artikel ini ditulis 13/9/2014 pukul 07.07-9.07

 

Referensi :

http://blog.ted.com/2014/08/14/what-can-the-american-and-british-education-systems-learn-from-classrooms-in-the-developing-world/

http://ideas.ted.com/2014/09/04/what-the-best-education-systems-are-doing-right/

http://rofalina.com/2013/11/sekolah-penjara-merusak-anak.html

Sumber Gambar :

http://rofalina.com/wp-content/uploads/2013/10/sekolah-adalah-penjara1.jpg?dd3f0c

http://indonesia.ucanews.com/wp-content/uploads/2012/11/guru.jpg

http://rofalina.com/wp-content/uploads/2013/10/Albert-Einstein-belajar.jpg?dd3f0c

 

 

Advertisements