This pict taken from : http://intentionallanguage.files.wordpress.com/2013/05/educator.jpg

Ilmu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Lantas apakah para tenaga pendidik kita, entah itu guru atau dosen, telah berhasil mentransfer ilmu kepada anak didiknya?

Ini sebuah ironi ketika penulis mengkritik dosen (secara tidak langsung) yang secara implisit hanya memberi sebuah nilai tanpa berhasil mentransfer ilmu. Penulis dikatakan tidak sopan oleh teman penulis. Tampaknya teman penulis ini belum paham betul apa esensi dari ilmu. Bukankah suatu sistem tanpa kritik akan menghasilkan sistem yang itu-itu saja tanpa adanya perbaikan? Penulis ingat sebuah quote menarik, “Kehancuran Republik bukan krn rakyatnya mendebat penguasa, tetapi justru saat rakyatnya menurut-patuhi penguasa.”

Ketidakberhasilan para tenaga pendidik dalam mentransfer ilmu akan berbuntut panjang. Dan nampaknya ini telah mengakar di Indonesia, meski penulis sadar tidak semua, tapi mayoritas memang seperti itu. Para guru selalu diam ketika ditanya mutu. Apakah mereka qualify? Apakah para guru cukup kompeten untuk setidaknya mentransfer ilmu?

Sehebat apapun guru jika tidak paham keilmuannya dan tidak mengajar dengan gairah itu sama saja nol. Kompetensi guru untuk mengajar dengan pemahaman yang mendalam dan bergairah dalam mengajar bahkan telah tertulis pada program magister untuk mengajar pada Harvard University.

Fenomena yang terjadi, guru cenderung menyampaikan ilmu dengan metode ceramah. Bukankah ini sangat abstrak? Sehebat apapun guru matematika jika tidak paham bagaimana 1/3 : 2/5 akan menghasilkan ceramah matematika. Murid yang seperti busa penyerap dipaksa memuja hasil itu dan menggunakan secara mutlak tanpa tau alasan dibalik hasil tersebut.

Pembelajaran dengan model pemaksaan menghasilkan sistem belajar yang dogmatis. Ketika ini terjadi, maka “the beauty of knowledge” tidak nampak dan tidak lagi menarik dimata murid. Akibatnya pengaplikasian ilmu di kehidupan sehari-hari tidak tercapai. Seberapa sering murid di Indonesia menganggap matematika menakutkan? Menganggap fisika menakutkan? “Buat apa gua mempelajari trigonometri, integral, turunan sampai gua mutah-mutah?” Pertanyaan semacam ini dapat menjadi cerminan keberhasilan pendidikan di Indonesia. Apakah ini dapat dikatakan tranfer ilmu yang berhasil?

 

Menelisik lebih dalam

Ketika kita berbicara dan secara halus menyalahkan guru, ada baiknya kita melihat para calon-calon guru. Mungkin saja kesalahan ada pada mereka. Atau bahkan mungkin kesalahan ada para mereka yang tidak mau menjadi guru.

Ini sebuah ironi di Indonesia ketika siswa kelas 3 di SMA ditanya ingin masuk jurusan apa. Penulis yakin, mayoritas anak IPA akan menjawab kedokteran atau mungkin teknik. Ini yang unik di Indonesia, ketika di luar negeri fakta membuktikan mereka cenderung memilih jurusan yang bersifat umum seperti pendidikan, psikologi, filsafat, sains, dll.

Ketika terjadi begini, ada 3 kemungkinan anak-anak yang masuk jurusan pendidikan. Yang pertama adalah mereka yang memang dengan kesadaran ingin menjadi guru. Yang kedua adalah mereka yang main aman agar mendapatkan PTN. Dan yang ketiga adalah mereka yang terjerembab dan tidak ada pilihan selain jurusan pendidikan karena bila kita lihat dari passing grade memang jauh dari pada jurusan teknik, apalagi kedokteran.

Kemungkinan tipe pertama presentasenya sangat sedikit. Ini fakta dan benar adanya. Penulis tidak sekedar omong kosong karena ini berdasarkan apa yang penulis lihat dan amati. Betapa ketika ada 50 calon pendidik, untuk kategori pertama hanya sekitar 7-8 anak (bahkan kurang) dan yang lainnya masuk ke kategori 2 dan 3.

Ketika begini, ketika kompetensi guru dipertanyakan, apakah semerta-merta kita menyalahkan guru, atau input calon guru, atau mungkin yang lain? Apapun itu, yang jelas salah adalah mindset yang ada pada siswa yang menjadikan jurusan pendidikan / jurusan ilmu murni tak lagi menarik dan tak favorit. Betapa dulu penulis bahkan menganggap “bukan laki kalau tidak masuk teknik”, betapa dulu penulis menganggap “kalau nggak pinter jangan masuk jurusan ilmu murni macem matematika murni, fisika murni, kimia murni dll”.

Semua yang kuliah juga belum pintar, kalau sudah pintar lebih baik tidak kuliah. Bukankah begitu? Penulis rasa ini adalah saat yang tepat untuk membagikan artikel ini mengingat beberapa bulan lagi ada penerimaan mahasiswa baru. Semoga ini menjadi pertimbangan temen-temen kelas 3 SMA untuk memilih jurusan pendidikan. Semoga menghapus anggapan jurusan pendidikan bukanlah jurusan yang menarik.

Inti dari pemikiran yang panjang ini adalah bukanlah suatu kesalahan jika kita mengkritisi sesuatu yang menurut kita tidak pas. Bukankah kritik bertujuan agar suatu sistem dapat berjalan lebih baik? Adanya kritik justru menunjukan keseimbangan dalam suatu sistem (check and balance).

Advertisements