Ospek, Apa Tujuan Anda?

ospek
sumber gambar : http://www.radar-bekasi.com/wp-content/uploads/2011/09/ospek.jpg

Sengaja saya mengambil judul seperti itu karena setiap tahun saya yakin diantara panitia satu dengan yang lainnya apabila diberi pertanyaan tentang tujuan ospek berbeda-beda. Dari jawaban yang berbeda-beda pastilah ada yang salah. Tidak satu paham, maka dari itu evaluasi (serius) kegiatan ospek setiap tahun tentu diperlukan dan tidak hanya sebatas formalitas dsb.

“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas dan teman seideologi. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah yang menjadi korban-korban baru mahasiswa semacam itu,” –  Soe Hok Gie

Tujuan yang baik, hanya dapat dicapai dengan cara yang baik, sudah fitrahnya manusia juga ingin diperlakukan dengan baik. Sebagai mahasiswa baru saya mengamati untuk ospek tingkat universitas dan fakultas telah banyak perbaikan yaitu dengan tidak adanya acara bentak-bentakan. Kalau ospek tahun ini masih ada bentak-bentakan, saya akan berada pada garis terdepan untuk menolaknya.

Di sini, saya ingin menyampaikan beberapa hal.

Mengkritisi ospek bagi saya adalah mengkritisi sifat keakuan atau egosentrisme sekelompok mahasiswa senior yang merasa mempunyai “hak” untuk ‘membimbing dan mendidik” mahasiswa baru agar menjadi mahasiswa yang ‘benar’. Sampai saat ini sekalipun, kita masih sulit untuk melenyapkan kebiasaan tersebut dan masih kesulitan pula untuk menghadirkan suasana yang humanis atau ramah bagi kemanusian dalam kegiatan-kegiatan yang melibatkan mahasiswa senior dan yunior.

Dari perasaan “berhak membimbing” tersebut munculah ospek dengan model tugas-tugas yang diluar nalar dengan dalih keakraban, kedisiplinan, kebersamaan, pengenalan, dan lain sebagainya.  Model ospek konvensional semacam itu sudah selayaknya ditinggalkan oleh semua Perguruan Tinggi. Sudah selayaknya ospek yang mengacu pada perluasan makna Tri Dharma Perguruan Tinggi diaplikasikan.

Jika kita “mau” bernalar, korelasi antara pemberian tugas yang menghabiskan biaya banyak dengan atribut aneh-aneh dengan alasan kedisiplinan sungguh tidak relevan. Dulu, waktu saya menjadi pengurus MOS di SMA pun bersikeras agar tetap ada atribut yang saya tahu sendiri untuk menyelesaikannya perlu waktu sampai larut malam, bahkan hingga dini hari. Saya masih ingat betul bahwa panitia memaksa tugas itu harus dikerjakan dengan alasan tugas masa sekolah belum ada apa-apanya dengan tugas MOS. Cacatnya di mana? Jelas, beda tugas beda urgensi. Tidak bisa disamaratakan.

Kalau mau hitung-hitungan, asumsikan setiap anak menghabiskan uang 15rb buat beli karton, lem, dan sebagainya (diluar dana baksos dan dana sosial lainnya). 15rb x 27 jurusan di fkip x (asumsi rata-rata) mahasiswa sejumlah 50. Estimasi 20juta terbuang sia-sia. Itu baru fakultas. Belum tingkat Univ. Tak bisakah dialihkan dengan kegiatan yang lebih kreatif dan beresensi?

Poin kedua, biasanya (saya masih menemui di ospek tingkat jurusan) bahwa ada unsur skenario di mana panitia berpura-pura dalam hal apapun. Tidak mau tersenyum dan sebagainya. Bukankah itu sebuah kepalsuan? Apakah dengan hal semacam itu akan dihormati secara ikhlas oleh maba?

Mungkin akan sakit bila ini dibaca oleh teman-teman panitia. Tapi, insyaAllah saya tidak menjustifikasi bahwa ospek itu selalu negatif. Mungkin masih perlu perbaikan. Saya memiliki pemikiran seperti ini pun banyak teman yang mencibir. Saya masih ingat betul dulu saya dibilang : Ah, kamu cuma ngomong, tapi no aksi.

Akhir kata, saya mengucapkan banyak terimakasih karena sudah diberi kesempatan untuk menyampaikan saran dan pemikiran saya. I really appreciate it. Selanjutnya, saya hanya ingin merekomendasikan kepada teman panitia yaitu dalam menyelenggarakan ospek untuk mengingat-ingat kembali tujuan utama ospek. Evaluasi pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. Ingatlah ketika teman-teman panitia menjadi peserta dulu. Gunakan cara-cara yang intelek. Bedakan ospek UNS dengan PT lain. Teman-teman tidak perlu menjawab teks panjang ini secara tulisan, cukup pelaksanaan di lapangan yang perlu berkata. Saya harap dan saya doakan semoga tujuan ospek benar-benar tertarget dan esensinya dapat.

-Salam,

Egy Adhitama (Pendidikan Fisika 2014)

 

 

Advertisements