Sumber gambar : http://www.sabilillah.or.id/program/pendidikan/

Pembangunan nasional tidak dapat dipisahkan dari 2 aspek fundamental yaitu pendidikan dan kebudayaan. Kedua aspek tersebut sangat ampuh dalam proses internalisasi nilai-nilai budaya kepada generasi muda yang notabene penerus tonggak kehidupan berbangsa dan bernegara di masa mendatang. Kini pendidikan dan kebudayaan ialah isu besar yang mendesak yang harus ditangani secara sungguh-sungguh karena merupakan barometer kualitas manusia dan kemajuan suatu bangsa.

Pendidikan dan Kebudayaan

Apa sebenarnya kebudayaan itu? Berbagai sumber menyebutkan, kebudayaan adalah nilai-nilai sosial-kemasyarakatan yang dimiliki sebuah bangsa, bersifat turun-temurun, serta hasil karya artistik dan intelektual yang khas dan menjadi jati diri bangsa itu. Di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain dari anggota masyarakatnya. Dalam definisi yang lebih ringkas: kebudayaan adalah hasil karya cipta, rasa, dan karsa manusia.

Kebudayaan adalah hakikat hidup manusia dalam bersosial dan membutuhkan kanal pendidikan sebagai instrumen konservasi, pengembangan, dan diplomasi kultural (Fauzi, 2011). Kehadiran sentuhan kebudayaan dalam pendidikan adalah penting agar sekolah tak hanya unggul secara akademik, tapi juga berbudaya, mengingat sekolah sebagai wadah terpenting untuk menginternalisasikan nilai-nilai budaya.

Kebudayaan tidaklah statis. Ia bergerak. Ia hidup. Kebudayaan bukan sekadar kumpulan artefak nilai-nilai dan karya-karya warisan nenek moyang, melainkan sekaligus mengandung hasil karya cipta-rasa-karsa yang terus bertumbuh (Yudhistira, 2011). Itulah sebabnya, kebudayaan membutuhkan dan melahirkan pendidikan bagi terjadinya proses pewarisan dan pengayaan. Inilah upaya mempertahankan diri dan demi kelangsungan hidup suatu bangsa.

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan.

Ki Hajar Dewantara meletakkan pendidikan sebagai usaha pewarisan kebatinan yang ada dalam kebudayaan kepada generasi penerus. Bukan sekadar pemeliharaan, tapi juga mengembangkan dan memajukan kebudayaan menuju keluhuran hidup kemanusiaan.

Dewasa ini, pudarnya nilai-nilai luhur bangsa sangat terasa. Kejujuran nampaknya masih sebatas angan-angan dan hal semu. Seberapa sering kita mendengar pelaksanaan ujian nasional yang dibersamai aksi culas dan tak berbudaya. Bahkan, yang masih hangat adalah kasus jual beli ijazah palsu. Orang terdorong untuk mendapat gelar sarjana, master, ataupun doktor dengan ijazah palsu, atau gelar akademis asli tapi diraih dengan cara tak semestinya. Penyakit lama yang terbongkar baru-baru ini yang mana tersangkanya adalah orang berdasi memang menimbulkan ironi yang mendalam, mencederai dunia pendidikan di Indonesia.

Pemahaman pendidikan telah bergesar makna. Kini, ijazah lebih dari sekadar kebutuhan pragmatis untuk mencari kerja, ijazah dan gelar akademis juga telah menjadi semacam simbol status, sumber penghormatan di alam feodalisme baru. Masyarakat secara umum terjebak tunduk mengagumi formalitas ketimbang substansi. Pemikiran yang menahun ini memang sulit berubah dan diubah.

Filsuf Perancis, Jean-Jacques Rousseau, pernah mengingatkan: Salah satu elemen kebudayaan yang bertanggung jawab atas korupsi moral manusia adalah pendidikan, maka pendidikan harus ditransformasikan. Adalah jelas dari statement tersebut bila siswa masih menggunakan cara tak berbudaya demi mendapatkan nilai, orang masih membeli ijazah palsu, yang salah adalah sistem pendidikan di Indonesia yang tidak berhasil menanamkan mental ke-Indonesiaan.

Tantangan bagi dunia pendidikan adalah bagaimana menunjukkan identitas dan menumbuhkan kebanggaan nasional di tengah beragam paradoks yang ada: paradoks antara negeri kaya dan rakyat yang menderita; antara nilai-nilai ideal Pancasila dan praktik neoliberalisme yang menggurita; antara keramahan, kebinekaan dengan keberingasan, dan konflik sosial yang marak; antara kesalehan, keheroikan dengan kemunafikan, korupsi, dan keculasan para pemimpin.

Pendidikan sebagai proses pembudayaan

Eksistensi pembangunan pendidikan dalam keseluruhannya adalah, dan harus dirancang sebagai, proses pembudayaan. Harus ditegaskan bahwa pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan sebagaimana para pemikir–klasik dan modern–selalu menempatkan pendidikan sebagai salah satu elemen saja dari kebudayaan.

Pendidikan kebudayaan diperlukan agar bisa dicapai nilai-nilai kehidupan, hasil karya artistik dan intelektual yang lebih baik dan lebih indah. Tanpa pendidikan yang berkualitas, kebudayaan hanya akan menjadi prasasti: seperti karya fiksi yang terputus dari ruang dan waktu (Yudhistira, 2011). Dengan demikian, pendidikan niscaya merupakan bagian dari strategi pembangunan kebudayaan bangsa. Adapun strategi pembangunan tersebut yaitu :

Pertama, memahamkan anak Indonesia tentang keunggulan dan kekayaan budaya serta alamnya. Mereka perlu mengenal sekaligus memahami ilmu bumi, sejarah, seni, dan kearifan lokal. Indonesia seharusnya disadari tidak hanya sekedar rumah tempat lahir dan tumbuh. Melainkan juga tempat berkreasi membangun peradaban unggul.  Hal ini sangat urgen agar para siswa memiliki pemahaman dan penguatan komitmen kebangsaan.

Kedua, pendidikan sebagai proses pembudayaan harus menumbuhkan identitas nasional. Substansi dari identitas nasional adalah jawaban atas pertanyaan tentang siapa kita sebagai orang dan bangsa Indonesia serta apa yang membedakannya mereka yang bukan Indonesia . Bayangkan, alangkah indahnya ketika kita dipandang sebagai bangsa yang jujur. Jelas ini akan sangat menguntungkan seluruh aspek kehidupan negara.

Ketiga, menumbuhkan rasa bangga pada siswa yang mesti dimulai dari rasa bangga pada sekolah dan guru-gurunya. Berbicara tentang guru, tidak lepas dari kualitas daripada guru itu sendiri. Sehebat apapun guru jika tidak paham keilmuannya dan tidak mengajar dengan gairah itu sama saja nol (Iwan Pranoto, 2014). Kompetensi guru untuk mengajar dengan pemahaman yang mendalam dan bergairah dalam mengajar bahkan telah tertulis pada  program magister untuk mengajar pada Harvard University. Hal ini menjadi sebuah tantangan besar dan sekaligus mulia bagi para guru dan pemerintah mengingat nasib masa depan bangsa akan sangat tergantung pada pilar pendidikan

Keempat, metode pembelajaran satu arah, klasikal, hafalan, dengan tujuan akhir ujian nasional harus diubah secepatnya. Pembelajaran tersebut terbukti membunuh kreativitas dan gairah belajar siswa. Rasa penasaran yang seharusnya menjadi ruh siswa dalam belajar terasa kaku dan hilang dengan metode tersebut.

Guru harus sadar betul bahwa belajar adalah proses membentuk pengetahuan, mengkonstruksikan pemahaman. Ki Hajar Dewantara sering menggunakan metafor tumbuhan untuk melukiskan proses belajar yang dialami seorang anak. Belajar bukan menanamkan pengetahuan, tapi menumbuhkan potensi anak. Pendidik tidak bisa mengubah kodrat anak, pendidik hanya mengarahkan tumbunya kodrat tersebut.

Selain perlu perubahan metode, pemerintah perlu menanamkan ke masyarakat bahwa sekolah pada akhirnya adalah tentang proses, tidak semata hasil, apalagi jika hasil itu diukur cuma dengan standar formal yang menipu diri. Kalimat do not educate your child to be rich. Educate him to be happy. So when he grow up, he will know the value of things, not the price sangat perlu dipahami benar oleh setiap orang tua agar tidak lagi menjadikan anak sebagai bahan baku untuk diproses di sebuah “pabrik” bernama sekolah seperti yang terjadi sekarang ini.

Harapannya, anak mampu merelevansikan nilai-nilai normatif yang abstrak dengan kondisi sosial, sehingga dapat  menerjemahkan diri dalam kehidupan masyarakat yang kompleks secara fleksibel tanpa ada ketegangan. Nilai-nilai budaya secara sadar ataupun tidak, secara eksplisit maupun implisit sudah seyogyanya berhasil terinternalisasi, terpatri kuat, tumbuh dan berkembang pada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya para siswa di Indonesia. Ketika anak Indonesia memiliki menjunjung tinggi nilai-nilai serta luwes dalam bersosial, pola-pola seperti itu harus dipertahankan hingga menjadi identitas nasional yang terus berkelanjutan, yang akan sangat berguna bagi proses pembangunan bangsa dan negara. Sebuah tantangan besar dan sekaligus mulia seluruh pihak yang bersangkutan, entah itu pemerintah, guru, sekolah, maupun orang tua.

Advertisements