Sumber gambar : http://cep-probation.org/wp-content/uploads/2015/05/research.jpg
Sumber gambar : http://cep-probation.org/wp-content/uploads/2015/05/research.jpg

Diawal tahun 2016 ini, persaingan menuju masyarakat yang mampu bersaing tak boleh diterima sebagai hal sepele, melainkan sesuatu yang harus terus-menerus diperjuangkan. Selain gaduhnya berita freeport, sejatinya ada perdebatan tentang seberapa siap Indonesia menghadapi MEA. Namun, hal tersebut merupakan perdebatan yang salah arah. Siap atau tidak siap, era MEA harus dihadapi, sehingga kesiapan bukanlah menjadi isu utama. Sebenarnya, sejak munculnya niat untuk melaksanakan kawasan ekonomi terpadu dalam Bali Concorde II tahun 2003 dan ditegaskan pada KTT ASEAN ke-12 tahun 2007 yang menghasilkan kesepakatan untuk percepatan terwujudnya MEA di tahun 2015[1], kita praktis memiliki 12 tahun untuk mempersiapkan diri.

Jika sebelumnya kesalahan-kesalahan kecil dapat ditoleransi, kedepannya, Indonesia tidak boleh menganggap remeh kesalahan karena pesaing lintas negara akan menawarkan kualitas produk yang lebih serius. Pilihannya adalah kita akan menjadi raja di negeri orang atau tamu di negeri sendiri. Berbicara mengnai proses, Indonesia alangkah baiknya melihat dari cermin retak sejarah. Kita dapat melihat keterkaitan nasib Indonesia dengan Jepang dan Korea Selatan. Ketiga negara memulai dari nol karena sama-sama rusak parah pasca Perang Dunia II dan sama-sama harus memulai lembaran baru sesudah Agustus 1945.

Bedanya, Jepang mengalami kehancuran akibat perang yang dimulainya sendiri sebagai penjajah, sedangkan Korea Selatan adalah negara yang dijajah Jepang jauh lebih lama dibandingkan Indonesia. Jepang dihancurkan oleh bom atom yang dijatuhkan Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki. Seketika itu pula Korea Selatan langsung menyatakan kemerdekaannya. Indonesia baru bisa menyatakan kemerdekaan dua hari sesudahnya.

Meski di bawah pengawasan Amerika Serikat, Jepang-yang tak memiliki sumber daya alam apa pun-mampu menggenjot kembali dunia industri dan otomotifnya. Hanya dalam waktu lima tahun (awal 1950-an), barang-barang produksinya sudah membanjiri pasar dunia[2]. Tahun 1964, mereka telah mampu menyelenggarakan Olimpiade Tokyo dan membangun kereta api tercepat dunia (Shinkansen). 25 tahun setelah kehancurannya, pendapatan nasional bruto (PNB) Jepang sudah sama dengan jumlah PNB Inggris dan PNB Perancis.

Korea Selatan berkat pergerakan cepat dan masifnya di bidang teknologi informasi berbasis internet, negeri ini tengah mengepakkan sayap untuk berbicara banyak di kancah dunia. PNB Korea Selatan 20.870 dollar AS. Sedangkan Indonesia kini ada di kisaran PNB 2.963 dollar AS. Mengapa bisa terjadi demikian? Menurut Samuel P Huntington, ”budaya memainkan peran besar”[3].

 Peran perguruan tinggi

Dalam buku Challenging Knowledge; The University in The Knowledge Society (2001), Gerard Delanty mengatakan bahwa saat ini universitas berada di antara globalisasi dan kapitalisme akademik. Universitas kini tengah mengalami transformasi yang sangat pesat [4]. Di Indonesia, Universitas memiliki misi ketiga selain pengabdian kepada masyarakat dan penyelenggaraan pendidikan. Misi tersebut adalah penelitian, sehingga muncul istilah Tridarma Perguruan Tinggi (PT). Idealnya, perguruan tinggi  berjalan tidak jauh dari kaidah ilmiah, iklim akademik. Sedangkan kaidah ilmiah itu self driving, bukan disetir dari luar keilmuan. Bantuan apa pun yang diterima untuk pengembangan perguruan tinggi, perguruan tinggi itu tidak boleh keluar dari budaya ilmiahnya.

Namun, terkait misi pendidikan pun, kontribusi PT di Indonesia belum optimal. Hal tersebut dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia sangat rendah. Laporan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), IPM Indonesia pada tahun 2014 tak beranjak dari tahun sebelumnya, tetap di posisi ke-108 dari 187 negara yang dipantau, jauh di bawah Singapura (9), Brunei (30), Malaysia (62), dan Thailand (89), tetapi lebih baik daripada Filipina (117), Vietnam (121), Kamboja (136), Laos (139), dan Myanmar (150) [5].

Riset dan Budaya Akademik

Persoalan lain yang mencuat di hampir semua PT di Indonesia adalah lemahnya budaya akademik. PT saat ini ada pada sistem birokrasi yang cukup akut. Masalah lain yang sangat penting adalah riset universitas. Ada dua hal penting terkait riset. Pertama, pemanfaatan hasil penelitian untuk pengembangan pendidikan belum dapat dikatakan efektif. Penelitian harusnya menjadi faktor utama dalam proses pengambilan kebijakan pemerintah. Di negara maju, apa pun kebijakan diambil tidak akan ditempuh tanpa penelitian ilmiah yang valid.

Kedua, terkait dengan minimnya anggaran untuk riset. Indonesia masih jauh tertinggal dari segi alokasi dana riset. Hal tersebut dapat kita lihat apabila riset kita dibandingkan dengan negara-negara seperti China, Korea, Jepang, India, dan Brasil [6]. Jepang bahkan memiliki anggaran riset teknologi terbesar kedua di bawah Amerika Serikat. Selain itu, negara berkembang seperti Brasil dan India juga sangat bergairah unutk mendukung riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya.

Bagi universitas sendiri, riset menjadi penggerak penting kemajuan ilmu pengetahuan. Budaya dan peradaban universitas tak bisa hanya dengan mengutamakan pengajaran konvensional..Lebih dari 50 persen penelitian dasar yang menghasilkan terobosan pemikiran dilakukan oleh universitas[7]. Ini seharusnya disadari pihak universitas untuk memacu produktivitas riset yang bermanfaat.

 Universitas Sebelas Maret

Penulis sangat mengapresiasi terobosan yang dilakukan Universitas Sebelas Maret (UNS) mengenai percepatan publikasi yang dimotori oleh Tim Quantum Leap Transformation (QLT). Terhitung penulis telah mengikuti workshop yang diadakan QLT sebanyak 3 kali dan mencatat beberapa hal penting yang disampaikan narasumber. Salah satunya seperti yang disampaikan Dr. Umar Khayyam untuk tak perlu bekecil hati apabila produktivitas kita tertinggal, yang penting semangat mengarah ke sana sudah ada. Lantas, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset di UNS?

Menurut hemat penulis ada beberapa hal yang harus dilakukan.

Pertama, menambah jumlah anggaran riset untuk perguruan tinggi yang mencakup seluruh disiplin ilmu. Dalam hal ini penyebaran anggaran harus merata dan adil.

Kedua, terbuka lebarnya akses dan informasi forum-forum internasional berupa konferensi, seminar, workshop, fellowship, short course, yang mendukung kapasitas dosen dan peneliti di UNS untuk mengembangkan kemampuan research atau mengajar serta mendapatkan pengalaman internasional.

Ketiga, dosen diwajibkan berkolaborasi dengan mahasiswa dalam risetnya. Hal ini dapat menjadi satu pijakan yang sangat bagus dalam peningkatan kuantitas dan kualitas riset di Universitas Sebelas Maret. Penulis merasa UNS perlu menambah kuota mahasiswa pascasarjana dan mencanangkan program pascasarjana berbasis riset. Jika setiap profesor melakukan penelitian mandiri dan membimbing minimal dua mahasiswa pascasarjana. Dengan demikian jumlah publikasi internasional sudah pasti akan meningkat. Sinergi dosen atau guru besar dengan mahasiswa pascasarjana akan semakin mengukuhkan riset sebagai tulang punggung perkembangan iptek di UNS.

Keempat, menciptakan suasana dan iklim kondusif dalam mengembangkan kualitas riset. Ini bisa dilakukan dengan pemberian insentif maupun penghargaan yang memacu produktivitas hasil riset. Penghargaan bisa diberikan pemerintah, dunia swasta maupun dunia industri.

Di New York, terdapat sebuah SMA yang bernama Bronx High School of Science. Sekolah ini menghasilkan delapan alumni yang menjadi pemenang Nobel dalam bidang fisika dan kimia sejak 1972[8]. Hal ini sebenarnya dapat menjadi motivasi bagi Universitas Sebelas Maret untuk melakukan hal yang sama. Kita tidak kalah dalam hal sumber daya manusia karena sebenarnya banyak ilmuwan Indonesia lulusan terbaik dari luar negeri. Mereka berprestasi cemerlang ketika di luar negeri. Saatnya membuktikan bahwa UNS mampu menjadi ujung tombak dalam pengembangan riset dan teknologi di Indonesia.

Jadi, apa yang harus dilakukan? Singkatnya, dengan semangat untuk terus belajar, Universitas Sebelas Maret harus mampu mengembangkan budaya akademik dan menjadikan kampus sebagai masyarakat ilmiah. Hubungan sivitas akademika antara pemimpin dengan yang dipimpin harus dapat dijangkau dengan mudah dan bersifat fungsional. Hubungan antara dosen serta dosen dan mahaiswa seharusnya bersifat dialog gagasan, perbincangan ilmiah, berbagi ide, dan diskusi kecil berbasis pemikiran lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

[1] ASEAN Secretariat. 2015. Twelfth ASEAN Summit, Cebu, Philippines, 9-15 January 2007. [ONLINE] Tersedia di : http://www.asean.org/news/item/twelfth-asean-summit-cebu-philippines-9-15-january-2007.

[2] Kaskus. 2014. Jepang di Tahun 1950-an, Momen Kebangkitan Pasca Bom Atom Hiroshima. [ONLINE] Tersedia di : http://www.kaskus.co.id/thread/53291580118b46d7648b46cd/jadoel-inside-jepang-di-tahun-1950-an-momen-kebangkitan-pasca-bom-atom-hiroshima/1.

[3] Huntington, Samuel. (2008) The Clash of Civilizations”. The Times : London.

[4] Delanty, G. (2001) Challenging Knowledge: The University in the Knowledge Society. Buckingham: Open University Press.

[5] United Nations Information Centre Jakarta. 2014. Laporan Pembangunan Manusia 2014 – Peluncuran Global, Implikasi lokal. [ONLINE] Available at: http://unic-jakarta.org/2014/07/25/laporan-pembangunan-manusia-2014-peluncuran-global-implikasi-lokal/.

[6] CNN Indonesia. 2015. Anggaran Riset Indonesia Masih Minim. [ONLINE] Available at: http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150108154000-185-23272/anggaran-riset-indonesia-masih-minim/.

[7] Hidayat, Rakhmat. 2015. Menanti Gebrakan Riset Perguruan Tinggi. [ONLINE]. Tersedia di : http://nasional.sindonews.com/read/942758/18/menanti-gebrakan-riset-perguruan-tinggi-1419664604/2

[8] Olatz Arrieta. 2012. The Bronx school that produces Nobel winners. [ONLINE] Tersedia di : http://www.bbc.co.uk/news/world-us-canada-19953310.

Advertisements