Di Indonesia, sangat marak perbincangan mengenai fungsi dan peran dari bagian otak yaitu kanan dan kiri. Tak jarang kita mendengar kalimat bahwa lebih baik di jurusan yang banyak hitung-hitungan, karena otak bagian kanan lebih kuat, atau bahwa anak IPS cocoknya menjadi pebisnis karena trainer pelatihan bisnis bilang begitu, atau apabila lebih dominan otak kiri, berarti tidak cocok menjadi seniman

Percakapan tersebut dapat kita jumpai di berbagai tempat, misal di sekolah, kantin, bus, dan tempat lain. Kebanyakan kita berbicara hal tersebut (otak kanan dan kiri) seolah itu merupakan kebenaran dan kita tidak perlu menelisik valid atau tidak informasi tersebut seperti postulat yang tidak diragukan lagi kebenarannya.

Adapun yang memulai pembahasan mengenai hal ini adal oleh ilmuwan Prancis yang berprofesi sebagai Neurosaintis yaitu Pa De Paul Broca[1]. Istilah yang lazim digunakan adalah Brain Lateralization[2]. Karena informasi kebenarannya masih simpang siur, akibatnya banyak dampak yang ditimbulkan seperti pembagian jurusan, cara belajar, hingga ke ranah pekerjaan yang didasarkan pada mitos otak kanan otak kiri. Maka dari itu,  pada makalah ini penulis mencoba menyampaikan informasi lebih lanjut mengenai Brain Lateralization.

Asal Usul Mitos

Di Prancis, ada sebuah museum yang sangat terkenal yaitu Musée Dupuytren di mana salah satu koleksinya adalah otak manusia dalam toples bercampur dengan formalin[3]. Otak ini beragam mulai dari otak manusia paling jenius sampai manusia psikopat. Salah satu otaknya adalah otak Pa De Paul Broca.

Mengapa penulis menyinggung Paul Broca ini pada awal tulisan? Karena Paul Broca ini lah manusia yang pertama kali sadar bahwa ada bagian otak yang bertanggungjawab atas kemampuan bicara[4]. Apabila bagian otak ini rusak misal pembuluh darah di area broca pecah maka kita akan kesulitan berbicara. Bagian otak ini ada di depan sebelah kiri. Berikut adalah visualisasinya.

79c0f85992d333ecc1070e9c930e1c48

Gambar 1. Daerah Broca dan Wenicke pada otak.

Sumber gambar: Pinterest

Broca juga merupakan saintis yang mengatakan bahwa penderita epilepsi akan berkurang kejang-kejangnya apabila “jembatan” antara otak kanan dan otak kiri (corpus collosum) diputus. Dari penelitian ini pun terbukti bahwa penderita epilepsi menjadi dapat hidup secara normal. Maka dari itu pendapat Broca tentang dualitas fungsi otak diterima dan dihormati di masyarakat luas dan kalangan saintis pada saat itu.

Berkembangnya Mitos

Pendapat Broca yang mengatakan bahwa ada area spesial di otak yang bertanggungjawab atas kemampuan bicara disertai dengan banyak bukti dari dokter yang memiliki pasien yang kesulitan bicara karena stroke otak kiri membuat banyak orang yang mengaitkan tentang otak kiri dengan kemampuan berbahasa dan kompleksitas sintaksis berbahasa.

Ada gejala yang bernama Aphasia[5]. Secara sederhana gejala ini seperti ketika kita susah mengucapkan sesuatu tapi kita tahu artinya[6]. Misal ketika kita meminta orang mengambil pensil tapi tidak bisa menyebutkan kata “pensil” sembari membuat gerakan menulis. Kerusakan di daerah broca ini membuat orang benar-benar tidak dapat menyebutkan sesuatu tapi dapat mendesktipsikan bentuk, warna, dan ciri benda tersebut.

Bagaimana dengan otak kanan? Gejala Aphasia di otak kiri memiliki “kembaran” di otak kanan yaitu gejala Agnosia. Kelainan yang ditimbulkan adalah orang akan kesulitan mengenali pola yang orang normal mudah untuk mengenalinya, misal muka manusia[7]. Penulis mencoba browsing di internet dan ada semacam test Agnosia ini.

wiwp6h3q

Gambar 2. Test Agnosia.

Sumber gambar : http://pbs.twimg.com/profile_images/596206070730657793/WIWp6h3q.jpg

Orang normal akan mudah mengenali wajah tersebut apabila kita balik gambarnya. Namun penderita Agnosia akan frustasi mengenali wajah tersebut meski dari berbagai sisi seperti ketika orang normal melihat gambar tersebut apabila tidak dibalik. Kerusakan pada otak bagian kanan juga mengakibatkan delusional misidentification syndromes, reduplicative paramnesia, dan capgras delusion[8][9]

 

Referensi

[1]Paul Broca. (2016, June 4). In Wikipedia, The Free Encyclopedia. Retrieved 05:53, June 6, 2016, from https://en.wikipedia.org/wiki/Musée_Dupuytren

[2]Vallortigara G, Rogers LJ (2005). “Survival with an asymmetrical brain: Advantages and disadvantages of cerebral lateralization

[3]Anthropological head casts. (n.d.). Retrieved June 06, 2016, from http://www.museedelhomme.fr/en/collections/biological-anthropology/anthropological-head-casts

[4]Knecht S, Dräger B, Deppe M, Bobe L, Lohmann H, Flöel A, Ringelstein EB, Henningsen H (2000). “Handedness and hemispheric language dominance in healthy humans”. Brain 123 (12): 2512–2518. PMID 11099452. doi:10.1093/brain/123.12.2512.

[5]Expressive aphasia. (n.d.). Retrieved June 06, 2016, from http://research.omicsgroup.org/index.php/Expressive_aphasia

[6]Kandel E, Schwartz J, Jessel T. Principles of Neural Science. 4th ed. p1182. New York: McGraw–Hill; 2000. ISBN 0-8385-7701-6

[7]Braun CM, Delisle J, Guimond A, Daigneault R (March 2009). “Post unilateral lesion response biases modulate memory: crossed double dissociation of hemispheric specialisations”. Laterality 14 (2): 122–64. PMID 18991140.

[8]Boeree, C.G. (2004). “Speech and the Brain”. Retrieved February 17, 2012.

[9]Devinsky O (January 2009). “Delusional misidentifications and duplications: right brain lesions, left brain delusions”. Neurology 72(1): 80 7. PMID 19122035. doi:10.1212/01.wnl.0000338625.47892.74

[10]Madoz-Gúrpide A, Hillers-Rodríguez R (April 2010). “[Capgras delusion: a review of aetiological theories]”. Rev Neurol 50 (7): 420–30. PMID 20387212

[11]Taylor, I. & Taylor, M. M. (1990). Psycholinguistics: Learning and using Language. Pearson. ISBN 978-0-13-733817-7. p. 367

[12]Arsuka, Nirwan Ahmad. (2015). Catatan Kecil tentang Burung. Bersains Vol. 1, No. 2, Retrieved June 06, 2016, from https://bersains.files.wordpress.com/2015/02/bersains-catatan-kecil-tentang-burung-arsuka-ed.pdf

Advertisements