Beberapa bulan lalu, ada pemilihan nahkoda untuk suatu kapal. Tak bisa dituliskan di sini dan biarlah perjuangan dan pengorbanan itu menjadi konsumsi pribadi. Aku teringat akan kalimat bijak :

Jikapun harus berakhir maka akhirilah dengan bijak.
Jikapun harus bertahan, maka bertahanlah dengan kekuatan yang tak biasa.

Jika memang tak bisa lagi di perbaiki, maka ikhlaskanlah untuk melepasnya.
Jika memang masih bisa di benahi maka lakukanlah agar kesalahan yang sama tak akan terulang.

Kelak, suatu hari kau akan ingat bahwa apa-apa yang telah kau lakukan sebenarnya adalah segala yang terbaik yang bisa kau perbuat.

Benar memang apa yang Allah skenariokan adalah yang terbaik dan aku pribadi percaya ini merupakan hasil doa-doa gaib yang tak terlihat, baik itu doa teman, doa saudara, maupun doa keluarga.

Aku bertanya-tanya kepada diri, tentang apa yang sebenarnya tidak Engkau penuhi. Nyatanya tidak ada, sebab Engkau memenuhi semuanya dan bahkan memberi jauh lebih banyak dari apa yang tidak pernah aku minta. Air, udara, makanan, keluarga, sahabat, pertemuan, kesempatan, aaaah sulit sekali bagiku untuk menghitungnya. Nikmat-Mu tidak terhitung. Semakin kuhitung, semakin tidak terhitung. Allah, apakah kiranya yang membuat rasa cukup seolah sering datang dan pergi? Adakah yang salah dengan hati?
.
Aku bertanya lagi kepada diri, tentang mengapa di hati ada ruang bernama sepi. Adakah ruang itu aku yang membuatnya sendiri? Kapan aku melakukannya? Bagaimana aku telah melakukannya? Aku tidak pernah benar-benar sendiri. Bahkan, aku dikelilingi oleh orang-orang yang kasih sayangnya tak perlu aku pertanyakan lagi. Tapi, mengapa kiranya aku meminta-minta kepada-Mu agar aku ditemani? Allah, apa kiranya yang membentuk sepi? Adakah yang salah dengan hati? Bukankah kebersamaan sejatinya tidak pernah menjadi garansi untuk memunculkan bahagia jika masih ada yang tak selesai dengan hati?
.
Aku semakin bertanya, tentang mengapa kebahagiaan terasa jauh adanya. Apakah memang benar bahwa untuk menuju bahagia aku harus memenuhi dulu standar-standar manusia tentang dunia? Mengapa standar-standar itu lantas menjadi jalanan sepi yang terbentang panjang dan memisahkan diri dengan kebahagiaan? Ah, tidak! Kuyakin bahagia seharusnya bukan bersumber dari standar-standar dunia.
.
Dalam tanya, aku kemudian menjadi paham akan satu hal: semua ini adalah karena ketiadaan-Mu dalam hatiku. Bukan karena-Mu, tapi semua tersebab aku yang berani melangkah keluar menjauh dari-Mu, hingga rasa cukup yang semestinya memenuhi hati menjadi berceceran entah dimana. Padahal, semua yang Engkau beri adalah cukup: tidak lebih, tidak kurang, tidak terlambat dan tidak terlalu cepat.
.
Allah, aku ingin cukup.

Advertisements