Libur telah usai. Kini aku berada di semester 6 yang artinya sudah memasuki jenjang Top Leader dalam sebuah organisasi/lembaga. Masa-masa sekarang adalah saat setiap lembaga memburu penerus perjuangannya. Hidup dalam sebuah lembaga memang sangat ditentukan oleh proses kaderisasi sejak dini. Kaderisasi dalam pandangan saya berarti mengajak setiap ‘calon korban’ ke dalam lingkaran kebaikan. Lingkaran ini nantinya akan menjadi rumah kedua mereka di kampus. Lingkaran yang akan menuntut setiap syaraf otak untuk tersulut idenya memecahkan setiap tatangan dan dinamika lembaga.

Banyak pelajaran tentunya yang aku dapatkan hingga ditahun ke 3 ini. Diberbagai kesempatan ketika aku menjadi pembicara, ada poin yang selalu aku tekankan bahwa setiap mahasiswa harus mempunyai harapan. Bukan masalah, siapa, bagaimana dan dimana manusia berada, harapan selalu menjadi penarik hati dan menggauli setiap malamnya. Dia datang, walaupun pasang surut iman, kuat lemah hati dan naik turun raga menjadi dinamika kehidupannya. Mimpi ini akan selalu menjadi pendamping asa dan harap setiap insan, mereka yang beriman tak mungkin tak punya

Harapan yang terpatri kuat akan selalu terlantunkan dalam setiap doa kita. Sebagai contoh kita berharap menjadi anak yang berbakti kepada orang tua tentunya di setiap 5 waktu wajib kita doa tersebut selalu terlantunkan indah hingga menggema ke penjuru langit.

Hope. Begitu kata Tim Robbins, tokoh utama dalam film Shawshank Redemption. Harapan adalah hal baik yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Bahkan dalam keadaan terjepit pun, ada hal yang tidak bisa dirampas, itulah harapan. Hakikat harapan memang dinamis di setiap langkah-langkah, kebermaknaan hidup bisa jadi merupakan dasar adanya mimpi. Karena mimpi datangnya dari visi dan idealisme yang dibalut dengan hasrat memperbaiki keadaan sekitar maupun di masa akan datang.

Berilmu

Harapan (dalam konteks ini yaitu untuk berkarya dan berprestasi) dan ilmu merupakan hal yang berkorelasi. Adalah suatu bagi keharusan setiap muslim untuk berilmu. Kewibawaan suatu umat, gagal berhasilnya suatu negara dan keindahan hidup yang bermanfaat semua terletak pada seberapa banyak dan manfaat ilmu yang kita miliki.

Hadis riwayat Abu Musa ra.: Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Perumpamaan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dalam mengutusku untuk menyampaikan petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan yang membasahi bumi. Sebagian tanah bumi tersebut ada yang subur sehingga dapat menyerap air serta menumbuhkan rerumputan dan sebagian lagi berupa tanah-tanah tandus yang tidak dapat menyerap air lalu Allah memberikan manfaatnya kepada manusia sehingga mereka dapat meminum darinya, memberi minum dan menggembalakan ternaknya di tempat itu. Yang lain menimpa tanah datar yang gundul yang tidak dapat menyerap air dan menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang mendalami ilmu agama Allah dan memanfaatkannya sesuai ajaran yang Allah utus kepadaku di mana dia tahu dan mau mengajarkannya. Dan juga perumpamaan orang yang keras kepala yang tidak mau menerima petunjuk Allah yang karenanya aku diutus”. (Shahih Muslim No.4232)

Harapan yang terukur

Tak dapat disangkal bahwa harapan memang harus jelas dan terukur sehingga memiliki parameter keberhasilan yang tepat. Gagal, tertunda bahkan terhapusnya sebuah harapan tidak akan menjadi suatu penghalang untuk memiliki harapan-harapan baru untuk diwujudkan. Ini mungkin fase yang sulit bagi mahasiswa semester awal di mana mereka masih gamang untuk memulai.

Maka dari itu sejak awal dulu di tahun ke 3 kuliah ini, aku ingin mewakafkan diriku untuk berbagi kepada mereka yang memiliki harapan untuk berkarya dan berprestasi. Langkah itu kumulai dari  membuat grup whatsapp  dengan tujuan agar mereka bisa produktif dalam bidang keilmiahan. Grup ini awalnya berisi 9 anak yang saya bagi menjadi 3 kelompok. Alhamdulillah di semester satu mereka sudah mampu mengirim 3 proposal PKM. Bagi aku pribadi ini merupakan prestasi yang sangat luar biasa.

Aku termasuk orang yang yakin bahwa untuk tataran mahasiswa baru, yang merela perlukan adalah motivasi dan “arah jalan”. Aku tidak melihat kecerdasan menjadi syarat yang signifikan untuk berprestasi. Maka dari itu aku beri motivasi dan aku tunjukkan jalan kepada mereka agar mereka sudah mulai berporses semenjak semester 1.

Dalam berproses itu, aku memberikan deadline yang strict, gaya interaksi yang cuek, dan lain sebagainya untuk melihat sejauh mana keseriusan mereka. Mereka tanya, aku jawab singkat. Aku ingin melihat apakah dengan jawaban singkat itu mereka akan berhenti (padahal aku tunggu mereka untuk terus bertanya). Hahaha. Alhamdulillah sekarang grupnya sudah sampai 33 anak dan tentunya aku membuka diri untuk mereka-mereka yang ingin bergabung.

Hasilnya alhamdulillah anak semester 1 pun sudah ada yang pergi ke luar pulau jawa untuk mengikuti lomba.

img_20160917_172123

Tim Aisyah (Agroteknologi 2015) yang berhasil menjadi finalis di Institut Pertanian Bogor

(transportasi pakai kereta eksektutif)

whatsapp-image-2017-01-29-at-22-23-56

Tim Nila Sarifah (fisika 15), Hanifah (p.fisika 16) dan Nia (p.fisika 16) yang berhasil menjadi finalis di Unismuh Makassar

(transportasi pesawat)

whatsapp-image-2016-10-28-at-11-16-28

Tim Hanung dan Nada (p.fisika 15) yang berhasil menjadi finalis di UNP Padang

(transportasi pesawat)

Aku pikir tidak ada yang tidak mungkin. Semua mempunyai kesempatan yang sama. Allah pasti akan memudahkan segala niat baik. Kini aku masih terus bermimpi agar mereka bisa sebahagia aku, ketia pergi keliling indonesia dengan uang dari Universitas :).

Advertisements