whatsapp-image-2017-02-19-at-17-49-28

Arti Komitmen dan Kompetensi

Dalam Islam dibenarkan untuk membuat perjanjian atau aqad antara seseorang atau kelompok tertentu. Bahkan, tidak menepati janji termasuk tanda tanda orang munafik. Jangan kira perjanjian haruslah dituliskan sebuah MoU atau berkas bermaterai. Karena bagaimanapun kita tuliskan ataupun tidak, malaikat raqib dan atid akan tetap mencatatnya sebagai hal yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Inilah bedanya orang yang secara formal menjalankan amanah lembaga dengan orang yang memiliki sifat insiatif dan visioner yang menjadikan lembaga sebagai ruang belajar. Keyakinannya adalah ketika kita memasuki sebuah tatanan kelembagaan, bukan lembaga yang harus memberikan pelayanan pada dirinya. Melainkan, dirinyalah yang semestinya mengambil sebanyak banyak pelajaran hidup dari lembaga, membagikannya kepada lingkungan dan memaksimalkannya sebagai modal kompetensi diri. Pertanyaan retorisnya adalah sebenarnya siapa yang butuh pengalaman, kita atau lembaga? Karena lembaga hanyalah sebuah wadah, wadah merupakan benda mati yang hanya menjadi sarana. Lebih penting adalah isinya, atau dalam hal ini adalah orang orang yang berada dalam cakupan sistem tersebut. Air yang bersih tentu tidak akan ditempatkan dalam wadah yang kotor atau sembarangan.

            Perlu kita ingat, lingkungan hanya berperan di awal proses dan selanjutnya kita lah yang akan menerima, menolak atau menentukan arah keputusan. Oleh karenanya, kesadaran diri untuk mau belajar adalah modal pertama bagi siapa saja yang ingin memiliki komitmen tinggi dalam kompetensi yang mumpuni. Komitmen tidak hanya mencakup kesediaan untuk menerima amanah, lebih jauh dari itu, komitmen adalah kemauan untuk memberikan yang terbaik bagi lembaga sekaligus pada dirinya sendiri. Karena ketika kita menjadi lebih baik, akan lebih maju pula lembaga yang kita turuti.

            Pelajaran penting, ada salah satu teman saya yang agak terganggu jiwanya (bukan gila, hanya sedikit depresi) dikarenakan keinginannya dalam beberapa aspek tidak terpenuhi dikarenakan sistem yang tidak mendukung. Keinginan dan obsesinya yang besar bertumbukan dengan rendahnya daya dukung pada diri dan lingkungannya. Padahal yang perlu dipikirkan adalah tahapan dan proses untuk mencapai keinginan atau impian yang dicanangkan. Bedanya orang yang berangan angan dengan seorang pemimpi (dalam arti positif ) terletak pada tindakan riil yang dilakukan melalui langkah langkah yang berjenjang.

            Arti kepercayaan jauh lebih mahal dalam kehidupan, amanah adalah salah satu sifat agung Sang Nabi. Oleh karenanya, dalam konteks berlembaga sifat sifat baik kita dalam menjalan roda organisasi sekaligus mengekspresikan diri haruslah tetap dalam frame kebenaran yang kita yakini. Menilik salah satu penelitian yang menjadikan CEO sebagai objek survei suara, kejujuran menempati tempat tertinggi yang didambakan dalam dunia usaha. Dan dari sini, dari kampus, dari lembaga, dari mahasiswa praktik kebaikan ini harus kita latih agar menjadi kebiasaan dan karakter dari negara Indonesia. Katanya, agent of change, bukankan perubahan dimulai dalam diri, dari sekarang dan menjadi prototype perubahan. Tak usahlah kita terlalu mengurusi hal hal yang belum pasti, tidak penting dan belum tentu dapat kita ubah secara individu. Mari belajar bersama, belajar menjadi pribadi yang memiliki kepribadian hakiki, kompetensi yang unggul dan komunikasi yang mumpuni.

Written by DP

Advertisements