Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi – Salim A Fillah

 

3 tahun ini banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan, termasuk nilai-nilai kehidupan. Aku mengamati bahwa ada satu kecenderungan yang tidak baik apabila kita berada di lingkungan yang baik (lho?). Coba kita renungkan, pasti kita sering sekali menilai orang lain dengan standard yang kita rumuskan.

Memang dari “sononya” manusia adalah makhluk yang senang untuk melakukan penilaian pada seseorang. Bisa jadi, menilai seseorang adalah langkah untuk membuat kita lebih waspada. Membuat kita menjadi lebih paham karakter orang. Membuat kita mampu memutuskan, apakah orang ini cocok untuk menjadi teman kita, atau tidak. Namun, seringkali, kita malah larut dan begitu senang untuk memberi penilaian orang lain. Bahkan terkadang, hanya karena sebuah perilaku, kita langsung melakukan cap kepada orang tersebut.

Tanpa bertanya, terkadang kita menentukan, keburukan seseorang atas apa yang ada pada dirinya, atau apa yang ia lakukan. Celakanya, kita juga senang memberitahu orang betapa buruknya orang lain dari penilaian kita yang begitu awam.

Padahal bisa jadi, apa yang ada pada dirinya, itu adalah masa lalu yang tak bisa ia hapus. Padahal bisa jadi, keburukan yang dia lakukan, adalah kebiasaan yang sedang dia coba hilangkan namun tak sengaja dia lakukan, atau mungkin dia sedang berproses.

“Alim sih, tapi masih aja pacaran”

“Katanya cadaran, tapi kok goncengan sama pacarnya sih”

Jujur saja, saat orang lain berbuat maksiat, kita pasti merasa lebih mulia daripada dia yang sedang berproses untuk memperbaiki dirinya

Ada saja komentar buruk dari kita yang sering memuliakan diri kita. Padahal orang yang bersalah tadi, belum tentu akan bersalah sampai besar nanti. Siapa tahu, besar nanti dia lebih baik dari kita? Bukannya mendoakan kita cenderung lebih suka meremehkan mereka

Jika kita sudah dalam proses istiqomah berpenampilan syar’i kita pasti akan berkata “Duh sayang ya, kurang sedikit lagi jilbabnya bakalan jadi syar’i”

Benar tidak? Kita cenderung menilai mereka dengan penilaian hina daripada kita sendiri. Kita (tepatnya, saya dulu) cenderung mengkotak-kotakan perempuan, bahwa mereka yang berjilbab tidak syar’i berarti dia buruk, begitu juga sebaliknya. Ternyata hidup tidak sesempit itu.

Jadi berbuat baiklah tanpa merasa baik, ketika ada orang yang berbuat maksiat doakanlah “Ya Allah, semoga Engkau memberikan hidayah padanya, dia bisa saja menjadi lebih baik daripada kita nanti” Dan ketika kita melihat seseorang yang biasanya berperilaku buruk tetapi menjadi berperilaku baik, maka doakanlah “Ya Allah, semoga Engkau mengistiqomahkan dia dalam kebaikan dan memberi hidayah kepada kita agar nisa meneladani kebaikannya” Bukankah mendoakan lebih mendamaikan hati kita? Daripada menilai dengan pandangan hina?

 

Karena itulah yuk berbuat baik tanpa perlu merasa baik

Alim itu baik, tapi merasa alim itu kesombongan

Shaleh itu baik, tapi merasa shaleh itu keangkuhan

Rajin beribadah itu baik, tapi merasa mulia itu tipuan setan

Tugas kita bukan memberi penilaian, tugas kita adalah mengingatkan yang buruk, memantapkan yang baik. Toh, manusia mana yang sempurna?

Advertisements