robi

Tulisan ini berangkat dari semangat saya untuk terus belajar. Belajar apapun dan dari siapapun. Hingga titik-titik dalam hidup ini menghubungkan saya untuk menjadi salah satu penerima manfaat beasiswa Baktinusa. Bertemu orang baru membuat saya bersemangat untuk belajar dari mereka karena saya yakin setiap orang pasti memiliki cerita hebatnya masing-masing.

Tulisan ini ditujukan untuk menjaga ghiroh perjalanan kita sebagai mahasiswa, apakah selama usia 21 tahun hidup kita benar-benar telah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Robi Afrizan Saputra namanya. Dia mahasiswa Unpad. Dan hingga usia 21 tahun ini dia telah menulis 9 buah buku dan telah tersebar di seluruh Indonesia via Gramedia. Saya ulangi, 9 buah buku! Saat pertama kali dengar saya sambil ternganga-nganga. “Bener po ora iki Jon” kata saya dalam hati.

Saya telisik lebih lanjut, ternyata dia sudah melanglang buana untuk mengisi acara di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Dehasen Bengkulu. Terlebih lagi dia salah satu mawapres FIB Unpad pulak!

Lebih lanjut saat ditanya dia mengatakan “Aku percaya, selama kita punya tekad yang kuat, apapun mimpi yang kita yakini akan terwujud. Sebab, mimpi itu tidak ada yang mustahil. Selama kita berikhtiar penuh, bekerja dengan totalitas. Jarak keberhasilan mencapai impian itu akan semakin dekat. Karena mantra man jadda wajadaa itu memang benar-benar ada. Tentu semuanya atas izin Allah”.

Aku diam sejenak. Berpikir keras. Kemudian aku teringat akan Q.S Ibrahim ayat 24-25 di mana Allah coba sampaikan bahwa rasa buah dari pohon iman kita seharusnya adalah kemanfaatan setinggi-tingginya bagi saudara kita. Nah, untuk menghasilkan rasa buah kemanfaatan, maka kita harus memiliki landasan kuat untuk tumbuh dan cabang panjang perjuangan yang menjulang.

Dalam bahasa lain, tidak mungkin kita memberi tanpa memiliki, tidak masuk akal adanya kemanfaatan ketika tak punya modal untuk dibagi-bagikan. Dan si Robi ini membagi kemanfaatannya melalui menulis buku.

Maka, saya berkesimpulan bahwa tingkatan dalam kehidupan ialah kita memiliki akar teguh kepedulian untuk memberikan yang terbaik, lalu berlanjut dengan kekokohan cabang (batang) untuk bertahan dalam belajar dan berjuang serta membagikannya sebagai rasa buah kemanfaatan bagi setiap yang pernah bertemu dengan kita.

Pertanyaan terakhir bagi kita saya adalah, apakah kita saya sudah berikhtiar penuh dan bekerja totalitas seperti kata Robi? (garuk garuk kepala)

-Egy Adhitama

Advertisements