“…….. jabatan adalah amanah, ia pada hari kiamat akan menjadikan yang meyandangnya hina dan menyesal kecuali yang mengambilnya dengan benar (bihaqqiha) dan menunaikan tugasnya dengan baik.” Nasehat Rasulullah kepada Abu Dzar al-Ghifari yang meminta jabatan kepada beliau.

Ingin sekali rasanya menyampaikan ini saat pemilihan ketua SIM beberapa bulan lagi, tapi saya rasa malah banyak mudharatnya. Back to the topic, berbicara mengenai pemimpin yang ideal, sebenarnya dalam islam sudah diatur dan dicontohkan saat zaman Rasulullah. Saya percaya bahwa segala apa yang terjadi dizaman Rasulullah merupakan kode biar kita tidak tersesat saat menjalani kehidupan saat ini.

Sebelum lanjut ke pembahasan, saya ceritakan dulu kisah dipecatnya Khalid bin Walid dari panglima perang saat zaman Khalifah Umar Ibn Khattab. Kita semua mengetahui bahwa Khalid bin Walid terkenal dengan kepiawaiannya dalam mengatur strategi berperang. Dulu, baik saat sebelum masuk islam maupun setelah masuk islam, setiap peperangan dibawah komandonya selalu menjadi pemenang tanpa sekalipun kalah. Hal ini membuat dia sangat amat disegani dan dibanggakan oleh umat muslim saat itu.

Lantas pada suatu saat, tiba-tiba ada seorang yang menyampaikan surat kepada Khalid yang berisi kabar bahwa ia dipecat dari jabatan Panglima Perang. Ternyata surat itu dari pemimpin saat itu yaitu Umar Ibn Khattab. Kemudian Khalid ini menemui Umar, “Ya amirul mukminin, apakah saya memiliki salah sehingga engkau memecat saya?”, begitu tanya Khalid. “Ya benar saya memecatmu sahabatku. Kamu memang tidak memiliki salah. Saya hanya takut dengan posisimu saat ini rentan ada sebongkah sifat berbangga diri yang menjerumuskan kamu ke neraka” begitu jawab Umar.

Mendengar jawaban seperti itu, Khalid pun memeluk Umar. Sejak saat itu sebagai prajurit ia tetap melaksanakan perintah dari Panglima yang baru dan menuruti apa komandonya. Ketika ditanya mengapa ia masih mau ikut berperang, masyaAllah, ia jawab dengan, “Aku berperang demi keridhoan Allah SWT”.

Jujur, ketika mendengar kisah itu saya terharu dengan skenario Allah. Selalu, ia menjadi sebaik-baik perencana. Begitulah cara Allah menjaga hati ini agar tidak berbangga diri. Begitulah cara Allah agar aku bisa fokus ke hal yang lain.

Okai, sekarang benar-benar back to the topic. Coba lihat lagi nukilan paragraf paling awal. Ada tiga kriteria pejabat atau pemimpin (imam) yang tersembunyi dalam paragraf diatas yaitu: amanah, mengambil dengan benar, dan menunaikan dengan baik. Kriteria diatas tidaklah sederhana. Sebab pemimpin yang amanah dalam gambaran Nabi adalah pekerja bagi orang banyak, bukan sekedar penguasa. Dan pekerja seperti digambarkan oleh al-Qur’an haruslah orang yang kuat dan terpercaya. “Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja, ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (al-Qashash :26)

Kuat pada ayat diatas adalah kuat bekerja dalam memimpin. Sedang maksud amanah adalah tidak berkhianat dan tidak menyimpang, dengan motif karena takut kepada Allah. Maka sebagai pekerja untuk umat, sifat kuat bekerja adalah prasyarat penting pemimpin. Tapi yang lebih penting lagi adalah menjaga sifat amanah yang bisa hilang karena tuntutan pekerjaannya. (Yusuf al-Qaradhawi, Al-Siyayah al-Syar’iyyah Fi Dhaui Nushus al-Syari’ah wa Maqashiduha).

Nabi pun konsisten dengan kriterianya. Khalid bin Walid dan ‘Amr bin Ash yang baru masuk Islam diberi jabatan pimpinan militer. Padahal ilmu keislaman mereka berdua belum memadai. Tapi ternyata keduanya dianggap kuat dan sangat tahu betul seluk beluk dengan peperangan. Terbukti saat dipimpin Khalid, 46.000 tentara muslim menang lawan 240.000 orang kafir. Dalam konteks ke-SIM-an, kuat ini dapat diejawantahkan sebagai pribadi yang memang sangat kuat dalam keilimiahan (karena mau tidak mau ketua menggambarkan organisasi yang dipimpinnya). Pernah beberapa waktu lalu saya ditanya oleh Mas Asrori tentang bagaimana keberjalanan SIM sekarang. Kemudian dia lanjut bicara bahwa ternyata output yang dihasilkan dari suatu organisasi menggambarkan orang-orang didalamnya. Ketika output tersebut bermanfaat dan bagus, sudah pasti orang-orang dibalik layarnya juga bagus. Begitu juga sebaliknya.

Lanjut pada kisah Nabi, sebaliknya, orang sealim Abu Hurairah yang sangat kuat hafalan haditsnya dan banyak mendampingi Rasulullah tidak diberi jabatan apa-apa. Semangat Hasan bin Tsabit membela Islam juga tidak masuk kriteria orang yang layak memegang pimpinan atau jabatan. Tentu lagi-lagi karena tidak masuk kriteria pemimpin yang dicanangkan Nabi.

Sekarang, masalahnya adalah, seseorang bisa gagal menunaikan tugas kepemimpinannya karena tidak mampu mempertahankan amanah (khiyanat) atau karena tidak ada ilmu untuk itu (jahil). Maka al-Qur’an memberi pelajaran dari kisah Nabi Yusuf. Disitu dikisahkan bahwa ia diberi kedudukan tinggi oleh raja karena dapat dipercaya (amin), pandai menjaga (hafiz) dan berpengetahuan (alim) (Yusuf; 54-55). Ini berarti kriteria pemimpin ditambah satu syarat lagi yaitu “hafizh” artinya menjaga amanah. Hal ini disinggung Nabi dalam hadits yang lain: “Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang rakyatnya, apakah menjaganya (hafiza) atau menyia-nyaikannya.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Hibban).

Syarat yang satu lagi adalah sifat al-‘Alim. Artinya mengetahui apa yang menjadi tanggung jawabnya; mengetahui ilmu tentang tugasnya. Adalah malapetaka suatu bangsa jika pemimpin yang dipilih dan dipercaya rakyat ternyata tidak cukup ilmu tentang tugasnya. Inilah yang diwanti-wanti Umar ibn Khattab bahwa “amal tanpa ilmu itu lebih banyak merusak daripada memperbaiki”. Disini kita akan mafhum apa kira-kira sebabnya Abu Dzar tidak diberi jabatan oleh Nabi.

Ringkasnya, pemimpin atau pejabat (termasuk ketua SIM tentu saja) yang sesuai dengan ajaran Islam adalah yang bersifat amanah, memperolehnya dengan benar, menunaikan dengan baik, kuat, dapat dipercaya (amin), pandai menjaga (hafiz) amanahnya dan berpengetahuan (alim) tentang tugas kepemimpinannya.

Dari kriteria diatas, nampaknya Nabi tidak mengisyaratkan bahwa pemimpin Muslim itu harus seorang yang tinggi ilmunya dalam bidang agama. Seorang Muslim dengan kekuatan leadership dan amanahnya bisa menduduki jabatan tertinggi meski ilmu agamanya tidak setingkat ulama. Ini pulalah yang disimpulkan oleh Yusuf al-Qaradhawi.

Namun, kriteria-kriteria diatas secara amali berkulminasi pada dua sikap nurani yaitu pemimpin yang mencintai dan dicintai; yang mendoakan dan didoakan rakyat. Bukan pemimpin yang dibenci dan dikutuk oleh rakyat (HR Muslim).

Ditulis atas opini pribadi dan dikolaborasikan dengan tulisan orang lain

 

Advertisements