Beberapa hari ini saya berkontemplasi mengenai banyak hal. Rasanya banyak hal bergelayut di kepala. Tapi setelah dirunut ternyata semua yang bergentayangan dipikiran ini menuju pada satu muara, masa depan. Saya termasuk orang yang well-prepared. Segala sesuatunya saya siapkan untuk memastikan kedepannya OK, karena bagi saya ketika kita tidak menyiapkan keberhasilan, itu artinya kita sedang menyiapkan kegagalan.

Contoh kecil, bahan labfis dan semifis saya baru saya ajukan ke dosen yang sekaligus saat itu saya lamar untuk menjadi dosbing ketika technically sistem yang saya ajukan sudah selesai 90%. Saya tidak berani tiba-tiba datang ke dosbing ketika masih 0% atau datang untuk meminta judul atau sejenisnya. Misal seperti ini, “Pak saya mohon solusi topik semfis saya yang bagus apa ya pak”. Saya tidak bisa seperti itu, tapi model saya malah lebih ke, “Pak saya ada ide ini, saya sudah progress sampai sini, novelty nya di sini, tapi saya ada kendala, kira-kira bapak ada solusi atau tidak ya pak?”.

Itu intermezzo saja ya guys. Sekarang saya akan ajak kalian masuk ke dunia saya. Ketika takdir menentukan saya untuk kuliah di UNS, saya yakin itu yang terbaik bagi saya. Tapi saya sadar ketika saya ada di sini, saya dituntut untuk lebih dari yang lain. Maka sejak saat pertama masuk, saya menentukan standar bagi diri saya sendiri dan tidak menjadikan standar umum sebagai acuan. Kalau diibaratkan semua standar itu dengan suatu luasan A, maka saya ingin menambah luas lingkaran itu menjadi A+δ. Untuk mendapatkan luasan sebesar δ ini saya harus sadar harus berjuang lebih berat, lebih keras, dan lebih dari yang lain.

Contoh, ketika yang lain hanya kuliah-pulang, saya kuliah-pulang-organisasi. Ketika yang lain kuliah-pulang-organisasi, maka saya kuliah-pulang-organisasi-prestasi (ini bukan standar sih, tapi efek dari standar yang saya terapkan). Dan ternyata masih mahasiswa lain yang kuliah-pulang-organisasi-prestasi, maka saya kuliah-pulang-organisasi-prestasi-aktivis (ini juga implikasi, sebelumnya tidak pernah menargetkan menjadi aktivis). Mungkin juga masih ada yang kuliah-pulang-organisasi-prestasi-aktivis, maka saya pasang standar kuliah-pulang-organisasi-prestasi-aktivis-researcher.

Alhamdulillah sampai saat ini dengan ridho Allah, saya terhitung mahasiswa yang berhasil di akademik, menjadi mawapres, menjadi aktivis, dan menjadi mahasiswa researcher (meski masih beginner xD ). Tapi semua itu tidak menjamin pasca kampus. Saya sadar betul itu. Apalagi (meski sejak awal masuk UNS saya tidak mau jadi guru) kesempatan jadi guru 0% seperti kata Dr. Sarwanto saat itu di perkuliahan. Saya berpikir, lulusan FKIP dan kesempatan kerja 0%, terus bagaimana? Yang ada dipikiran saya saat itu adalah nasib jutaan lulusan FKIP. Sekarang coba kalian lihat di loker-loker yang ada, nyaris tidak ada loker di perusahaan ternama (multinasional apalagi internasional) yang membuka lowongan bagi lulusan FKIP. Kebanyakan butuhnya ya Teknik, Ekonomi, dan sebagian MIPA. Ya, terjepit.

Start from the end

Saya canangkan dulu diakhir saya mau jadi apa. Awalnya (dan 90% masih sih) saya ingin lulus langsung M.Sc, PhD (+menikah), jadi dosen, post doct, jadi professor dan menjadi periset. Tapi belakangan cita-cita itu agak goyah setelah blogwalking di web orang. Saya sedikit merasa seperti pengecut.  Saya sadar ternyata satu dari banyak alasan saya mengejar karir sebagai akademisi dan peneliti adalah untuk menghindari resiko (dan resiko ini hanya saya yang tahu definisinya). Suddenly I feel bad for this reason.

Kenapa merasa menjadi pengecut? Karena kata dia, ternyata atmosfir entrepreneurship begitu terasa di kampus-kampus US (in case CMU). Banyak mahasiswa CMU (terutama CS) yang masih kuliah dan sudah memulai start-up company. Dalam sekejap asetnya mencapai ratusan ribu USD. Milyaran kalo dirupiahkan. Aplikasi–aplikasi yang cukup sederhana seperti android apps yang bisa mendeteksi lokasi bus kota dengan memanfaatkan crowd-sourcing laris dan membawa untung lumayan. Kesempatan ada, tinggal mau berusaha dan cerdik membaca situasi dan kebutuhan orang-orang.

Bagi saya pribadi, cita-cita untuk M.Sc dan PhD tentu masih membara (dan semakin membara). Alasan utama adalah agama. Ya dalam islam ada 4 golongan yang haram dari api neraka. Salah satu golongan tersebut adalah Hayyin atau orang yang merendahkan dirinya dihadapan Allah. Memang kodratnya seorang hamba adalah rendah. Dan ketika kita menempatkan diri kita ditempat yang seharusnya (di tempat yang rendah), disitulah Allah memuliakan kita. Maka dari itu, sebagai hamba yang rendah dihadapanNya, saya harus terus berilmu untuk menaikkan derajat. Apalagi ini kode dari Allah dari 5 ayat yang pertama kali turun. Dan Allah pasti memudahkan niat hambaNya yang mulia.

Ketika saya bersekolah sampai S3, maka ketika saya bicara, kata-kata yang saya sampaikan akan lebih di dengar. Sehingga saya lebih mudah menginspirasi, menyebarkan kebaikan, dan  memberikan masukan-masukan.

Alasan sebagai dosen adalah karena saya lebih bisa berkembang ditingkat universitas dari pada menjadi guru ditingkat SMA. Kesempatan riset tentunya juga lebih terbuka lebar. Dan tidak dipungkiri, dari segi finansial saya bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan banyak bisa berbagi ke mereka yang membutuhkan (motif ekonomi).

Ketika goals saya sudah jelas, maka hal yang pertama saya lakukan adalah mencari ridho orang tua. Kemudian saya cari pola-nya untuk mencapai goals tersebut. Ternyata ada 2 yang saya garis bawahi. Pertama adalah kesempatan study abroad akan lebih terbuka ketika kita sudah memiliki pengalaman di level bachelor. Baik itu internship, atau menang competition, atau publication, atau yang lain. Dan syarat kedua yang mutlak adalah IELTS. Maka dari itu di semester 7 ini saya punya banyak list pencapaian. InsyaAllah ikhtiar ini akan berbuah manis. InsyaAllah.

IMG_20170524_161337
Foto dengan Dr. Eng. Nugroho Agung P

Satu bulan lalu saya juga berkesempatan silaturahmi dengan Dr. Eng. Nugroho Agung Pambudi. Beliau dosen PTM yang sekarang sedang menempuh Post Doc di Kyushu University. Saya sengaja menemui beliau untuk belajar dari pengalamannya kok bisa risetnya produktif dan bisa kuliah di luar negeri. Panjang lebar beliau cerita. Ternyata memang semuanya butuh kerja keras. Semua orang memiliki kesempatan yang sama, tinggal level kemauannya yang menentukan. Ada 3 hal yang bisa saya sari-kan dari pemaparan beliau dalam bercita-cita (FYI, beliau diterima di 10 univ, tapi ternyata ditolak di 50 univ. Kadang orang memang lihat enak-nya saja dari kehidupan orang lain)

  1. Belief

Sukses itu sangat di pengaruhi apa yang dinamakan belief. Dunia di luar diri kita alias hidup kita adalah proyeksi (cerminan) dari dunia di dalam diri kita. Nah dunia di dalam diri yang kita bahas kali ini adalah soal belief atau KEYAKINAN. Hidup kita adalah apa yang kita yakini. Salah satu sumber vibrasi terkuat yang kita pancarkan ke alam semesta ya belief kita itu. Konon katanya ketika kita sudah yakin agan segala sesuatu, maka seluruh alam semesta akan bekerja sama untuk mewujudkannya.

  1. Visualisasi

Artinya kita gambarkan segamblang mungkin keadaan kita seperti apa yang kita inginkan dipikiran kita. Visualisasi ini akan semakin bagus ketika tergambar dengan sangat jelas dan mendetail. Studi menunjukkan visualisasi impian bisa membawa energi positif dan membangun jiwa optimisme dalam ragamu. Dan dalam jangka panjang, bisa memotivasi dan mendorong Anda untuk membangun perilaku yang sesuai dengan arah visualisasi itu.

  1. Afirmasi

YES I CAN. Maksud dari afirmasi adalah penekanan bahwa yes, we can. Ya kita bisa. Insya Allah kita bisa. Ya, kita sedang dalam proses meraih impian-impian kita, dan pada akhirnya setelah proses yang panjang ini, kita Insya Allah akan berhasil.

Advertisements