Hari lebaran ini seperti biasanya saya menuju Ambal tempat kerabat dari keluarga Bapak. Ambal ini terletak di daerah selatan Kebumen. Sangat dekat dengan laut, paling 1 km kalau dari rumah saudara. Terkenal juga dengan sate ambal. Kapan-kapan kita berdua makan di sini ya(?). Oh ya, Ambal ini masih tergolong kecamatan yang nuansa desanya masih kental sekali.

img_20170625_141222.jpg

Foto ini saya ambil dirumah saudara jauh di Ambal. Rumah ini masih berdinding rotan. Lantainya masih cor-cor an. Lampunya masih pakai neon. Sejurus kemudian saya berpikir bahwa ternyata (berdasarkan pengamatan saya sih) orang yang hidup dari lingkungan yang tidak mudah cenderung memiliki endurance dan survival skill yang lebih bagus dibanding mereka yang sedari kecil sudah hidup nyaman dan semua tersedia.

Sepertinya sudah menjadi rahasia umum apabila kehidupan itu semakin lama semakin keras, sementara itu anehnya pendidikan itu semakin lama semakin lunak. Oleh karenanya mari kita(?) mempersiapkan generasi berikutnya sebagai generasi yang ditempa dalam kehidupan dan siap dalam menghadapi kerasnya kehidupan di masa yang akan datang.

Salah satu diantaranya adalah menikah dalam kondisi kehidupan yang belum mapan agar kita(?) mampu mendidik anak-anak kita dalam kesederhanaan dalam perjuangan hidup bersama kedua orang tuanya dan dalam kondisi ekonomi yang masih penuh dengan fluktuasi turun dan naik.

Kebetulan kemarin baru lihat video pendek dari ceramah Ust. Abdul Somad, Lc, MA tentang pertanyaan apa yang cocok untuk menemukan pasangan. Kata Ustadz Somad coba tanyakan apakah dia siap hidup susah. Hidup susah disini bukan berarti berharap hidupnya susah, tapi apakah sang calon pasangan siap menemani dalam keadaan apapun, termasuk masa-masa susahnya yang biasanya ada pada masa awal pernikahan.

Hasil perenungan saya, sebenarnya mencari pasangan itu mudah asal tidak banyak yang dipersyaratkan. Dalam statistik berlaku prinsip: bertambah kriteria maka berkurang peluang. Dan sebenarnya, kriteria utama untuk menjadi calon istri yang baik adalah TAAT, sedangkan kriteria utama untuk menjadi calon suami yang baik adalah TANGGUNG JAWAB. Tentu saja sebelum itu ada kriteria standar keagamaan. Di luar itu semua itu adalah kriteria-kriteria tambahan saja (kriteria tambahan ini tapi masih berperan penting memutuskan hasil akhirnya tapi, tiap individu beda-beda juga).

Soal syarat TAAT ini, saya jadi ingat cerita Ibu Septi Peni di facebook. Begini ceritanya.

Ketika dilamar mas Dodik dulu, saya cuma ditanya satu hal

“Aku ingin anakku dididik oleh ibunya, bukan orang lain, meskipun itu nenek dan kakeknya sendiri. Kamu sanggup atau tidak?”

Jawabannya pun tidak menunggu hari, tetapi ditunggu pada hitungan ke 5. kalau sanggup berarti memang calon istrinya, kalau tidak sanggup berarti memang bukan calon istrinya. Sesimpel itulah. Dan sayapun langsung menjawab pada hitungan ke 4, “Oke, bismillah dijalani” , padahal saat itu “menurut saya” dan kacamata orang awam, masa depan seperti sudah jelas di depan mata. Surat pengumuman untuk menjadi Pegawai Negeri sebuah RS di Semarang sudah di tangan, dan saya memilih menjadi Ibu Rumah Tangga.

Tidak mudah, karena saat itu Ibu Rumah tangga adalah kaum yang termarginalkan, tidak banyak dipilih oleh perempuan, karena masyarakat masih mengartikannya sebagai perempuan yang tidak memiliki pekerjaan.

Setiap kali saya galau menjalani peran sebagai Ibu Rumah tangga, mas Dodik selalu menguatkan saya dengan mantra dahsyatnya,

“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik, bersungguh-sungguh ngurusin anak orang lain, perusahaan orang lain, berdakwah untuk orang lain, dan berharap anak dan keluarganya tumbuh sendiri dengan sebuah kesungguhan”

“Membiarkan anak tumbuh sendiri, tanpa ada pendidikan di dalamnya, adalah pantangan besar dalam sebuah keluarga yang kita bangun”, kata mas Dodik menyemangati saya.

Dalam hati saya waktu itu tidak percaya, bagaimana bisa? seorang perempuan, ibu rumah tangga, terus menerus di ranah domestik, bisa melaju ke ranah publik? Tapi ternyata tugas saya hanya satu: TAAT, tidak perlu mempertanyakan apapun. Apa yang sudah imam keluarga katakan, pasti sudah dipertimbangkan matang-matang.

Dan sekarang ketaatan itu membuahkan hasil, saya kembali memahami sebuah konsep rezeki yang selama ini kadang dianggap mustahil oleh kebanyakan orang, yaitu

“Mendidik anak, berkarya dan menjemput rejeki itu ternyata adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, apalagi dikorbankan”

Bismillah, melangkah

Berarti memang benar ya, syarat utama adalah TAAT. Dan dalam miniatur kehidupan di kampus kita pasti bisa memperhatikan siapa-siapa yang menunjukkan potensi TAAT ini. Kalau kata Sahabat Ali ra, kita belum benar-benar mengenal karakter seseorang kalau belum melakukan 1 diantara 3 : main kerumah dia, pergi dalam suatu perjalan bersama dia, dan lupa satunya haha. Saya rasa 4 tahun diperkuliahan merupakan perjalanan yang sangat cukup untuk melihat potensi TAAT dari seseorang.

Yang jelas, kalau kata idolaq Mbak Dewi Nur Aisyah di buku Awe-Inspiring-Me dia katakan bahwa perempuan yang berusaha menjadi pribadi sholihah pasti cenderung memilih laki-laki yang berusaha sholih untuk menjadikannya pasangan dan seterusnya. Pada akhirnya adalah bagaimana kita memasrahkan diri sebulat bulatnya kepada Allah tentang perjodohan kita. Karena jika jodoh akan jadi, jika tidak jodoh tidak akan jadi. Percayalah, yang paling tahu siapa yang cocok untuk menjadi pasangan kita adalah Allah. Pada dasarnya bukan kita yang memilih, tapi Allah yang pilihkan.

Jadi, siapkah kita?

Mumpung masih suasana lebaran, saya mohon maaf apabila banyak salah ya. InsyaAllah saya juga sudah memaafkan semua kesalahan orang yang pernah berbuat salah dengan saya. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT aamiin

Advertisements