Ada hal yang saya rasa perlu saya tuliskan di sini sebagai bentuk dokumentasi pribadi (dan buat dibaca kamu, eh kalian maksudnya). Semester ini, terutama bagian akhir, nampaknya sangat nano-nano bagi saya. Diawali dari rencana yang begitu mulus, tapi ternyata rencana manusia hanyalah rencana.

Dari awal memang sudah saya libatkan Allah, seperti yang ustadz Hanan bilang bahwa libatkan Allah dalam segala urusan. Saya berencana KKN Juli-Agustus, Magang 3 di Thailand Bulan Agustus-September, PIMNAS bulan Agustus. Bisa dilihat ada 3 jadwal yang tabrakan. Saya berdoa, “Ya Allah ridhoilah rencana hamba ini”. Bahkan sampai saya minta doa ke orang tua. Harapannya bisa wisuda bulan Desember. Itu bulan yang tepat untuk wisuda karena pembukaan penerimaan siswa Master di TU DELFT adalah November-Maret, dan itu hanya sekali intake. Artinya kalau lewat bulan Maret, saya harus menunggu 1 tahun. Saya sudah ukur bahwa rencana ini sudah sangat rapi dan tepat bagi saya.

Ya tapi kita semua harus paham, bahwa Allah Maha Pengatur. Bebas untuk berkehendak atas segala sesuatu. Ternyata nama saya di blacklist dari KKN. Saat itu tatapan saya kosong, apalagi saya sudah sempat ikut upacara. Ingat betul saat itu saya mencoba terlihat bahagia tapi sebenarnya pahit yang terasa. Saya berjalan di rumput rektorat untuk mencari Pak Rahayu selaku ketua UPKKN. Di sana terlihat Imam, Laras, dan Magida sedang foto-foto. Ya jelas mereka foto dengan raut wajah yang bahagia hahaha. Saat itu pasti wajah saya kecut karena sedang berpikir bahwa rencana wisuda Desember gagal karena KKN periode selanjutnya adalah bulan Januari-Februari. Weleeh

Sampai di LPPM saya bertemu dengan Pak Rahayu (setelah menunggu 3 jam). Saya sampaikan maksud saya, dan dengan tegas beliau jawab “Ga bisa mas. Anda pilih KKN atau PPL. Kalau PPL berarti KKN Januari”. Tegas tanpa tapi.

Ya semenjak KKN gagal saya jadi sering buat bahan bercandaan. Bagi saya becandaan mereka tidak ada masalah sama sekali. Yang jadi masalah adalah saya harus re-planning, apa yang harus saya lakukan ke depan. Karena kalau saya KKN Januari-Februari, itu normalnya adalah jadwal konsultasi skripsi. Jadi saya bisa ketinggalan jauh -_-. Harus berputar otak lagi saya untuk mencari celahnya.

Tapi saya masih sangat yakin bahwa Allah sebaik baik pengatur. Karena KKN saya delay, saya ada kesempatan untuk seminar proposal dan ujian eksfis (salah satu dari 3 TA jurusan saya). Praktis, ketika saya pulang dari Thailand, saya tinggal olah data untuk skripsi dan boom, selesai. Nah, mohon doanya agar di 2 minggu ini saya bisa melewati itu semua dengan lancar.

Balik lagi bicara tentang rencana. Saya sering menasehati orang bahwa ketika kita memperbaiki sholat kita, itu sama dengan kita sedang memperbaiki hidup kita. Ya, saya lakukan itu, karena saya percaya bahwa bukanlah kita yang mengatur urusan kita, tapi Allah lah yang mengatur urusan kita. Dan Allah adalah sebaik-baik pengatur. InsyaAllah akhir dari cerita ini bakal manis.

Ya memang seperti ini, dalam menjalani hidup, sadarkah kalau kita sering sekali merebut peran Allah? Allah berperan untuk mengatur apa yang terbaik untuk kita, tapi kita mengatur-atur sendiri seolah pilihan dan rencana kitalah yang paling baik. Allah berperan untuk mengurusi soal rezeki, maut, dan jodoh kita, tapi kita sibuk bertanya-tanya dan menggalaukan semuanya seolah tidak ada Allah yang menjadi satu-satunya pengatur untuk itu semua.

Sekarang saya harus tahu, bahwa ini adalah yang terbaik. Stop menuhankan rencana kita, karena rencana Dia adalah yang terbaik. Kamu, adakah rencana kamu yang gagal? Tenang saja, yang akan datang itulah yang terbaik. InsyaAllah.

Advertisements