Dunia ini tidak akan pernah membiarkanmu menyelesaikan apapun dengan mudah. Jika ada kemudahan, mungkin itulah doa yang dikabulkan. Jika bukan doamu, berarti doa untukmu

Tulisan ini merupakan kelanjutan tulisan yang kemarin, yaitu kejadian pasca gagalnya KKN. Di sini saya ingin sampaikan bahwa sesungguhnya Allah selalu ingin memberikan kemudahan bagi hamba-Nya, Allah tidak pernah mempersulit hidup hamba-Nya. Ketika kita mendapatkan kesulitan, maka Allah itu sudah menyiapkan hadiah, sudah menyiapkan surprise, sudah menyiapkan kejutan bagi hamba-Nya. Bukankah dalam Qur’an dijelaskan, “Setelah kesulitan, ada kemudahan”?

Harapan saya tulisan ini bisa menjadi penyemangat teman-teman dalam menghadapi segala persoalan di dunia ini.

Saya sangat senang mendengarkan ceramah Ustadz Hanan Attaki dan Ustadz Adi Hidayat. Saya tersadar bahwa dalam hidup ini kita harus melibatkan Allah. Apapun itu. Teman-teman bisa dengarkan di youtube (atau kalau males saya sediakan link nya : https://www.youtube.com/watch?v=cm8jw2FY_L4). Pasca gagal KKN, saya berdoa “Ya Allah bukan hamba yang mengatur urusan hamba, tapi Engkau ya Allah, Engkau yang Maha Mengatur segala urusan”.

Saya yakin ketika kita baik-baik sama Allah, maka Allah pun akan baik-baik sama kita. Baik-baik ini bisa teman-teman artikan dengan menambah amalan andalan teman-teman. Bisa sedekah, tahajud, dhuha, atau apapun yang sekiranya bisa teman-teman istiqomahkan. Setelah itu seolah Allah mengantarkan saya untuk bisa mengejar ketertinggalan saya dengan ujian labfis dan semprop. Sebelum tahu gagal KKN saya sama sekali tidak ada pikiran ini sama sekali. Dan masyaAllah, akan saya ceritakan kemudahan-kemudahan yang Allah berikan, tentu ini karena kemurahan hati Allah.

Yang pertama adalah Ujian Labfis. Ketika itu saya utarakan kepada Pak Fauzi dosbing saya kira-kira bisa ujian sebelum berangkat ke Thailand atau tidak. “oh bisa mas, ini nanti makalahnya print saja”. Singkat cerita proses revisi pun kelar (1x revisi). Kemudian masalah muncul karena saya belum ambil mata kuliah Labfis. Belum ambil mata kuliah kok mau ujian haha. Akhirnya saya menemui Pak Totok admin prodi, dan Alhamdulillah kata beliau sangat bisa. “Nanti tinggal minta kesediaan penguji langusng saya urus mas”

Akhirnya saya menemui Pak Radiyono, koordinator Labfis untuk meminta penguji. Karena di ruangan tidak ada beliau, kemudian saya hubungi via WA. Ternyata beliau sudah di mobil di parkiran. “Mas, saya sudah diparkiran , turun saja ya saya tunggu”. Setelah turun, saya utarakan bahwa saya mau minta penguji sekaligus melamar beliau jadi pembimbing skripsi saya (ini nanti ada di segmen selanjutnya). “Ya mas, kamu mau milih penguji siapa?”. Allahuakbar, biasanya beliau yang memberi nama penguji, tapi saya disuruh milih pengujinya. “Mmm, pak Teguh saja nggih pak.” Sengaja saya milih pak Teguh karena beliau agak mudah soal nilai haha. “Ya monggo mas, yang nguji saya juga ndak apa apa” kata beliau sambil tertawa.

Malam harinya saya berpikir kalau Pak Teguh yang menguji nanti agak susah mencari waktu yang pas karena beliau kaprodi. Akhirnya saya menghubungi Pak Radiyono agar beliau saja yang menguji saya. Jawaban beliau apa? “ya mas saya bisa, waktunya saya menyesuaikan Pak Fauzi saja”. Akhirnya tugas saya tinggal mencari hari yang pas. Saat itu hari Selasa, dan saya minta jadwal Pak Fauzi via WA bisa kapan. Ternyata bisa jam 10.30 hari kamis (2 hari lagi!). Dengan waktu yang mepet itu saya langsung urus surat, peminjaman ruang, dan peminjaman LCD. Alhamdulillah Allah memberi kemudahan dan lancar semua.

Akhirnya tiba hari kamis. Sebelum ujian, sekitar jam 9 saya harus pembekalan PPL Internasional dulu dalam rangka booking tiket. Jam 10 masuk WA dari Pak Rad “Mas saya flu, kalau saya yang nguji dan sekarang saja ujiannya bagaimana”. Langsung saya jawab “bisa Pak”. Dan kalian tahu proses ujiannya bagaimana? Seperti diskusi! PPT yang saya buat Cuma didisplay 2 slide. Materi yang saya pelajari malam hari tidak ditanyakan sama sekali. Saya hanya jelaskan prinsip kerja dan live show kinerja alat, beliau berkata “Ini bagus mas, kalau bisa teman-temanmu dibantu pakai konsep ini” Setelah tanya-tanya sedikit beliau berkata, “Udah mas, cukup. Ini dikasihkan Pak Fauzi ya”. Allahuakbar, proses itu paling hanya 7-10 menit seingat saya (normalnya ujian labfis 1-1.5 jam).

Setelah Pak Rad keluar, jam 10.30 pak Fauzi datang. Saya ingat sekali beliau masih sambil menggendong tas punggung masuk ruangan dan langsung melihat alat saya. Diam sebentar kemudian beliau tanya kinerja alat. Saya jelaskan sedikit dan melihatkan live show kinerja alat saya. Kemudian belia memberi masukan sedikit kemudian berkata, “Ya mas, ini alat bisa direvisi setelah Anda pulang dari Thailand, untuk makalah langsung di jilid saja”.

MasyaAllah, bagaimana saya tidak ternganga karena 2 penguji tersebut tidak seolah tidak melihat makalah dan tanpa revisi. Di bagian alat hanya perlu diperbaiki estetikanya. Benarlah kalimat “Andaikan engkau tau bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hatimu akan meleleh krn cintamu padaNya” (Ibnu Qayyim)

Qadarullah, 2 TA untuk lulus dari Pendidikan Fisika literraly clear. Sekarang saya ceritakan lagi kemudahan yang Allah berikan mengenai skripsi.

Jujur skripsi ini juga menjadi ketakukan bagi saya pribadi. Tapi saya hanya berpositif thinking kepada Allah, insyaAllah bersama Dia semua urusan lancar. Normalnya bulan Januari-Februari adalah jadwal konsultasi skripsi mahasiswa tingkat akhir. Tapi saya tidak bisa karena harus KKN. Makanya saya berpikir bagaimana biar saya bisa mengejar ketertinggalan, meski saya bisa saja bypass skripsi apabila jurnal saya tembus scopus. Tapi saya tidak mau menaruh telur dalam satu keranjang. Untuk jaga-jaga saya tetap harus menyiapkan jasmani rohani untuk skripsi ini.

Berhari hari saya berpikir tema apa yang kira-kira mudah dan cepat haha. Saya ceritakan dulu “istimewa (re: kesulitan)” skripsi di bidang pendidikan. Kesulitan yang pertama adalah kita harus menyesuaikan antara materi kita dengan jadwal sekolah. Bisa aja terjadi kita tidak bisa mengambil materi X karena ternyata di semester itu tidak diajarkan di SMA. Emang mau nunggu 1 semester? Kesultian kedua adalah penelitian di kelas harus meminta perizinan dari Dinas Pendidikan Provinsi yang artinya harus caw ke Semarang. Kesulitan ketiga adalah guru yang bisa saja tidak cocok dengan mahasiswa dll.

Lanjut cerita tentang skirpsi, dari awal saya tanya pak Fauzi bagaimana kalau RnD berhubung saya sudah punya alat. Tapi beliau menyarankan PTK saja karena RnD bakal lama. Jujur untuk PTK (apalagi eksperimen) saya agak menghindari karena harus bersiklus-siklus dalam penelitiannya. Akhirnya saya tanya ke kakak tingkat. Mbak Niken namanya. Beliau dulu sudah meminta saya untuk membantu skripsinya dimana skripsi tersebut adalah project dosen. Dulu saya iya-kan meski sebenarnya ogah-ogahan. Qadarullah, ternyata inilah rahasia Allah. Meski dulu saya ogah-ogahan ternyata itu adalah jalan bagi saya. Tema skripsi saya sangat mirip dengan beliau. Dan saya diberi kemudahan-kemudahan yang banyak sekali oleh Allah. Saya sudah mengajukan judul skripsi, boleh memilih pembimbing skripsi, insyaAllah bisa semprop sebelum berangkat ke Thailand (doakan ya), plus ambil data skripsi di Thailand. Apabila sesuai rencana, pulang dari Thailand tugas perkuliahan saya (sambil menunggu KKN) adalah revisi alat labfis dan olah data skripsi. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Ya, pada akhirnya kita harus paham bahwa kita diasuh oleh keputusan yang kita buat. Karenanya, kita terdidik untuk beradaptasi terhadap beraneka situasi yang lahir dari sikap tertentu di masa lalu. Pepatah klasik berbunyi, “pengalaman adalah guru terbaik”. Lalu kalau pengalaman merupakan guru, maka keputusan yang kita buat adalah sekolahnya. Kita mendaftar di sana, berkomitmen untuk menempuh proses akibatnya dan kelak akan lulus dari pendidikannya. Dan dalam menjalani semua kita harus melibatkan Allah.

Siapapun kamu, di manapun kamu, apapun problem kamu, percayalah firman Allah dalam surat Al Insyirah bahwa sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Hal ini diulang dua kali, satu kesulitan apa yang mampu mengalahkan dua kemudahan. Kemudahannya berasal dari Allah pula. Gagal lumrah karena itu pasti dialami oleh setiap manusia. Tapi keputusan untuk bangkit dari kegagalan itulah tidak dimiliki setiap manusia.

Jadi jangan berkecil dan bersedih hati, La Tahzan.

“Janganlah kamu bersikap lemah. dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.”
[Q.S Ali Imran ayat 139].

Dirimu masih bisa berkembang, masih bisa bangkit, dirimu setegar karang, Jangan menyerah, La Tastaslam.

“….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.”

[Q.S Yusuf ayat 87]

Percayalah pertolongan Allah selalu menyertaimu, jangan takut, La Takhaf.

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal.”

[Q.S Ali Imran ayat 160]

 

Labkom Pendidikan Fisika UNS

Solo, 27 Juli 2017

Advertisements