Tentu saja kita sudah sering mendengar syair ini.

Ibu adalah madrasah pertama
Jika kamu menyiapkannya
Maka dia menyiapkan generasi baik

Peran ibu memang sangat besar dalam mendidik anak-anaknya. Saya teringat khutbah Jumat 3 tahun yang lalu di Masjid NH yang disampaikan Dr. Sukarmin bahwa mendidik anak dimulai dari memilih calon isteri.

Masih dalam suasana idul adha, mari kita berbicara tentang Siti Hajar, yang bagaimana beliau mendidik anaknya, Ismail, a.s. menjadi anak yang beriman dan bertakwa, sementara ayahandanya Nabi Ibrahim a.s.  jarang menemuinya di masa kecil karena harus pergi meninggalkan mereka. Betapa luar biasanya peran seorang ibu ketika berupaya menghadirkan seorang ayah bagi anak-anaknya manakala ayah sedang mencari nafkah.

Seorang ibu memang madrasah pertama bagi anak-anaknya. Namun, bukankah sebuah sekolah tak akan komplit jika tidak memiliki kepala sekolahnya? Maka di sinilah peran ayah sebagai Kepala Madrasah. Dia lah sang pemilik visi dan misi. Mau dibawa ke mana istri dan anak-anak nya kelak.

Kemarin hari jumat saya menghadiri kuliah umum yang diisi oleh Prof. Dr. Eng. Khoirul Anwar dan Prof. Josaphat Tetuko. Dua sosok tersebut sudah tidak asing lagi bagi kita berkat kontribusinya dibidang masing-masing. Saat pemaparan materi oleh Prof. Anwar dipaparkan bahwa tahun 2050 dunia akan mengalami krisis energi dan krisis air. Dan ternyata, negara yang masih bisa survive adalah negara-negara disekitar ekuator. Kalau saya hitung, saat tahun 2050 berarti usia saya sekitar 54 tahun.

Salah satu kalimat yang saya garis bawahi dari Prof. Anwar adalah, “Saya tidak mau pada saat itu orang asing menodong pistol ke kepala bangsa Indonesia dan kemudian kita memberikan air kita kepada mereka. Maka saya berpikir keras bagaimana saya bisa berkontribusi agar itu semua tidak terjadi. Sebagai ilmuwan, saya akan berpikir keras bagaimana saya bisa berkontribusi dari bidang saya”

Entah mengapa seketika itu saya berpikir tentang keluarga saya kelak. Tentunya saya juga tidak mau Indonesia kembali dijajah karena krisis tersebut. Saya berkeinginan kelak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi negara, setidaknya tidak menjadi beban mengingat perkembangan teknologi lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Dulu saat SD saya memiliki cita-cita untuk memiliki HP Nokia Xpress Music pada tahun 2025. Sekarang kita mengingat hal konyol tersebut suka tertawa sendiri.

Maka dari itu keluarga saya kelak menjadi solusi dari permasalahan-permasalahan yang ada. Jadi ternyata bisa juga memilih istri dengan cara ilmiah, memilih istri bisa juga dengan memprediksi tantangan zaman (kalau ini sesuai tujuan BaktiNusa), memilih istri bisa juga dengan melihat bahwa dimasa mendatang dunia akan terjadi krisis air 🙂 .

Suka ketawa sendiri ketika membayangkan saya dan istri saya duduk di ruang tamu dan saya bilang “Bu, nanti di RT 5 kita buat solar panel sekaligus tracker-nya. Kita jadikan RT 5 menjadi RT percontohan, RT melek energi. Terus limbah feses ternak sapi nya pak Mukidi kita kumpulkan di suatu wadah dan kita olah jadi biomassa bu, nanti RT kita bisa dapat api untuk masak secara cuma-cuma tanpa harus beli gas pertamina. Terus rencana kompleks depan kita buat taman yang ada museum dengan konsep virtual realty, jadi anak-anak bisa belajar sambil bermain. Terus nanti setiap warga RT 5 kita edukasi dengan konsep 1 family 1 garden, kalau mereka ndak ada lahan bisa pakai vertical garden

Nah loh, coba kalau tanggapan istri “Walah mas mas, kono tukuo brambang ning pasar wae opo ngrewangi aku ngumbahi. Ojo mikir abot abot koyo negara mikir dhewe wae

(translate : Aduh mas mas, sana beli bawang aja di pasar atau bantu aku cuci baju. Jangan berpikir keras kayak negara mikirin kita aja)

Hahaha ga linier kan kalau seperti itu. Kalau melihat yang ideal ya keluarganya Pak Habibie di mana Bu Ainun meski beliau bukan engineer tetapi beliau selalu percaya mimpi-mimpi Pak Habibie untuk membuat pesawat. Di mana beliau selalu menemani hari-hari Pak Habibie, bahkan ketika dikondisi yang paling gelap sekalipun hingga semua orang berbalik arah.

Intinya ketika kita ingin keluarga kita (?) menjadi keluarga yang bisa bermanfaat, menyelesaikan banyak masalah umat, antara suami dan istri nanti harus selesai dengan masalah-masalah internal keluarga. dan itu artinya, suami dan istri juga harus selesai secara sendiri-sendiri pula–dengan diri sendiri. Yang penting juga adalah pasangan harus saling  percaya dan satu visi. Uluh uluuuh beraat bahasan kita kali ini ya bosq haha.

Advertisements