3 tahun lebih dikampus, ternyata tanpa saya sadari, saya banyak sekali belajar. Belajar tentang akademik, kemahasiswaan, birokrasi, kehidupan luar kampus, keilmiahan, dan sedikit politik. Tentunya itu menjadi pengalaman berharga bagi saya. Ngomong-ngomong, entah mengapa belakangan semakin santer terdengar perdebatan tentang kontribusi ideal mahasiswa.

Pemicunya adalah pro-kontra mengenai aksi di Jakarta beberapa waktu lalu. Saya perhatikan kebanyakan memberi komentar negatif. Mulai dari yang sopan sampai sarkas. Ya kehidupan media sosial memang tidak pernah mudah. (Silahkan cek di fb/ig)

Saya banyak belajar bahwa ternyata kita sering sekali menilai orang lain dengan standar yang kita rumuskan. Memang dari “sononya” manusia adalah makhluk yang senang untuk melakukan penilaian. Bisa jadi, menilai adalah langkah untuk membuat kita lebih waspada. Namun, seringkali, kita malah larut dan begitu senang untuk memberi penilaian orang lain. Bahkan terkadang, hanya karena sebuah perilaku, kita langsung melakukan cap kepada orang tersebut.

Tanpa bertanya, terkadang kita menentukan, keburukan seseorang atas apa yang ada pada dirinya, atau apa yang ia lakukan. Celakanya, kita juga senang memberitahu orang betapa buruknya orang lain dari penilaian kita yang begitu awam.

Berbicara tentang mahasiswa, ternyata banyak bentukan label yang dibuat dan dilekatkan pada mahasiswa hanya dari apa yang dilakukannya. Misal, mahasiswa ansos (anti sosial). Label yang dilekatkan pada mereka yang tidak mau ikut dalam organisasi, tidak aktif dalam kegiatan mahasiswa dsb.

Sebenarnya kita tidak fair melabeli seperti itu karena kita harus paham bahwa ruang berkembang setiap mahasiswa berbeda-beda. Di sinilah, menurut saya, bisa ditarik bagaimana sih definisi mahasiswa yang ideal. Orang yang tidak aktif dalam kegiatan kampus/organisasi tidak berarti dia tidak aktif sama sekali. Ia hanya memiliki ruang berkembang yang lain.

Selalu saya tekankan kepada adik-adik saya di SIM maupun Pendidikan Fisika bahwa silahkan temukan tempat internalisasi diri, karena tiap orang akan berbeda-beda. Silahkan berkembang di BEM atau UKMI atau Catur atau Badminton atau yang lain selagi ruang tersebut mampu memaksimalkan potensi kita sebagai mahasiswa. Karena ketika kita telah menemukan ruang untuk memaksimalkan potensi kita, disitulah kita menjadi mahasiswa yang ideal.

Mungkin kita pernah beranggapan pada kawan-kawan dibidang keilmiahan yang sering mengikuti lomba adalah omong kosong. Kita berpikir bahwa mereka hanya bermodal ide (yang entah bagaimana realisasinya) malah didanai kampus untuk naik pesawat terbang. Atau mungkin kita pernah beranggapan pada kawan-kawan yang sering melakukan demonstrasi (aksi) bahwa itu hal sia-sia warisan orde baru yang sudah kuno, bahkan menggunakan kata-kata kasar. Atau mungkin kita pernah beranggapan pada kawan-kawan yang hanya kuliah-pulang-kuliah-pulang adalah mahasiswa cupu dan gak ideal sama sekali. Salah. Tidak fair kita beranggapan seperti itu.

Saya pribadi beranggapan inilah pengisian peran. Mereka adalah orang-orang yang melengkapi peran-peran tsb. Dan kontribusi mereka sama sekali tidak bisa disepelekan karena itu adalah ruang berkembang mereka.

Kembali lagi, jangan sampai kita malah larut dan begitu senang untuk memberi penilaian orang lain. Bahkan terkadang, hanya karena sebuah perilaku, kita langsung melakukan cap kepada orang tersebut.

Tanpa bertanya, terkadang kita menentukan, keburukan seseorang atas apa yang ada pada dirinya, atau apa yang ia lakukan. Celakanya, kita juga senang memberitahu orang betapa buruknya orang lain dari penilaian kita yang begitu awam.

Saya kutip quotes dari seorang ustadz “Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya. Memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan merepotkan. Memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil akan menyakiti. Kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi”

Advertisements