Dunia ini tidak akan pernah membiarkanmu menyelesaikan apapun dengan mudah. Jika ada kemudahan, mungkin itulah doa yang dikabulkan. Itulah doa ibumu.

Sebagai pembuka, saya ingin menyampaikan bahwa apabila teman-teman memiliki orang tua/wali, terutama ibu, silahkan sekarang telpon dan minta ridho kepada beliau. Minta doa nya agar apapun urusan yang akan teman-teman lakukan senantiasa diberikan kemudahan oleh Allah SWT.

Cerita untuk mendaftar kuliah di luar negeri memang tidak ada habisnya. Dan saya yakin setiap pejuang kuliah di luar negeri mempunyai kisah perjuangan terbaik yang sedikit banyak mampu menginspirasi orang lain.

SMA

Cerita ini, tepatnya pasca lulus SMA dalam mencari tempat kuliah S1. Kebanyakan orang melihat dari segi “enak”nya, padahal saya yakin dibalik kisah manis pasti ada getir yang sempat mampir. Kalau kata ustadz Adi Hidayat ada 3 cara Allah dalam mengabulkan doa seorang hamba.

  1. Akan YA, ketika doa bertemu dengan maslahat
  2. Akan Ya tapi TUNDA, ketika doa belum saatnya maslahat karena hamba tersebut belum siap (Analoginya, ketika anak umur 5 tahun minta motor, pasti tidak akan dituruti meski sebenarnya finansial orang tua sudah mampu untuk membeli)
  1. Akan TIDAK dan diganti dengan YANG LEBIH BAIK, karena doa tidak bertemu dengan maslahat

Saat itu getir sekali rasanya. Tapi saya hanya bisa mendekat kepada Allah bahwa semua yang terjadi itu tidak ada yang keluar dari ketetapan Dia.

Semester 3

Saya jalani perkuliahan S1 sembari terus ikhtiar. Bahwa sebenarnya niat untuk mendapat kesempatan kuliah di luar negeri terpupuk semenjak (kira-kira) 1 bulan pasca pengumuman bahwa saya diterima di Pendidikan Fisika. Saat itu bagaikan pungguk merindu bulan. Saya yang hanya orang biasa-biasa saja masa memimpikan bisa berkuliah di Luar Negeri itu ibaratnya mustahil.

Tapi saya tidak berhak memupus harapan ini karena kepemilikan mutlak hanyalah milik Allah. Jadi saya simpan mimpi ini sembari mempersiapkan segala sesuatunya (Bahasa kekiniannya adalah memantaskan diri).

Terhitung untuk memulai perjuangan ini yaitu dimulai semenjak semester 3. Saya, dengan tidak tau diri, datang ke kantor dosen dan bilang, “Mohon maaf pak mengganggu, saya ingin belajar riset bersama bapak. Kalau ada hal yang bisa dibantu saya sangat senang pak”.

Pertanyaannya, mengapa riset? Karena saya membaca pola bahwa kampus di Asia timur itu research-minded. Artinya apabila pada jenjang S1 sudah punya publikasi berarti akan semakin besar peluang diterimanya.

Perjuangan riset pun bukan lah perjuangan yang mudah. Awalnya hanya kerja kasar seperti ambil tang, obeng, resistor, dll. Ternyata itu merupakan bagian dari dosen menguji seberapa besar niat kita untuk melakukan riset. Setelah itu naik level yaitu melakukan real riset. Perjuangan ini banyak pengorbanan. Saya masih ingat betul pada saat bulan desember 2015-februari 2016, disaat yang lain liburan, main ke pantai, kongkow, dll saya harus lebih awal ke solo untuk conducting research. Apalagi saat itu saya diberi amanah menjadi ketua panitia acara ilmiah nasional. Alhasil, waktu tidur saya pun dikurangi habis-habisan.

Riset pun selesai dan akhirnya saya berkesempatan untuk mempresentasikan hasil riset pada International Conference di Ambarrukmo Hotel pada November 2016. Masih ingat betul saat itu saya susah tidur mengingat biaya inap 1 malam 1 juta, padahal saya menginap 2 malam. Yaaa, untuk orang desa seperti saya, harga tersebut terlalu berlebihan.

Singkat cerita di tahun 2016 saya berhasil publish 2 paper, meski bukan first author. Adapun topik papernya memang energi, karena saya juga ingin mengambil field energy untuk kuliah master.

Semester 6-7

Banyak keajaiban di semester ini. Mulai dari menjadi mahasiswa berprestasi, bertemu teman-teman Baktinusa, dan bisa mengkader adik-adik untuk mengikuti lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI). Semester ini juga berhasil menyelesaikan 2 dari 3 tugas akhir, magang di Thailand sekaligus ambil data skripsi di sana, riset tentang baterai bersama teman-teman ristek, dan magang di Pusat Teknologi Material BPPT. Alhamdulillah Allah memudahkan setiap langkah.

Adapun semester ini saya sudah memiliki tujuan yang jelas yaitu ingin melanjutkan di Sustainable Energy Technology di TU Delft (Belanda). Meski masih gelap apakah bisa atau tidak yang penting saya punya mimpi dulu.

Saat magang di BPPT saya sudah menyiapkan transkrip sampai semester 7, letter of expected graduation, dan dokumen-dokumen yang kira-kira diperlukan untuk persiapan mendaftar kuliah S2 karena intake fall-.semester biasanya bulan November-Februari dengan keberangkatan bulan September. Saya berpikir sepertinya enak sekali kalau sebelum lulus sudah tempat untuk melanjutkan sekolah.

Hanya saja kalau mau di TU Delft, selain saya harus persiapan IELTS, intake nya adalah bulan Maret yang mengharuskan saya sudah lulus -_- (beda dengan Jepang dan Taiwan yang boleh asal ada sertifikat expected graduation). Akhirnya saya mencari kampus alternative yaitu di Asia Timur.

20 September 2017

Pada hari ini saya melihat broadcast di WA bahwa The University of Tokyo membuka aplikasi untuk S2. Akhirnya saya buka laman web nya dan saya melihat 1) boleh mendaftar meski belum lulus. 2) boleh menyusul TOEFL nya. 3) free biaya pendaftar. Akhirnya karena 3 hal tersebut, saya membulatkan tekad untuk mencoba mendaftar dengan keyakinan yang utuh (seperti iklan youtube hehee).

3 November 2017

Saya menghubungi Professor Tabata untuk menananyakan kesediaan beliau menjadi pembimbing saya. Ternyata tidak dibalas dalam beberapa hari. Akhirnya hopeless dan udah mau menyerah.

6 November 2017

Ternyata Professor dari National Central University (NCU) Taiwan melakukan safari ke UNS untuk mencari mahasiswa yang mau kuliah di sana. Persyaratan cukup simple yaitu application form, transkrip, TOEFL, dan curriculum vitae.

Saya beranikan diri untuk mengikuti interview dengan hanya membawa 3 dokumen yaitu application form, transkrip, dan CV. Pertama kali interview yaitu dengan Professor Monica dari Environmental Engineering. Sengaja saya pilih departemen ini karena riset beliau tentang nanomaterial yang aplikasinya untuk waste-water treatment. Saat itu saya ditanya mengapa tertarik di Environmental Engineering padahal background saya Physics Education. Jawaban saya agak gokil juga sih. Saya jawab karena tahun 2050 dunia akan krisis air dan saya ingin solusi dari permasalah tersebut hahaha.

Akhirnya karena saya dari physics dan melihat riset saya seputar energi sedangkan departemen tersebut butuh keilmuan kimia yang kuat, saya di suggest untuk pindah interview dengan Professor lain yang background nya Mechanical Engineering.

Saat kesempatan interview yang kedua, ternyata disana ada 2 Professor yaitu dari Mechanical Engineering dan Material Science and Engineering. Saat proses interview, seperti biasa saya kenalkan diri saya dan saya bercerita apa yang telah saya lakukan selama kuliah serta alasan mengapa saya pilih departemen tersebut. Selain itu saya juga bercerita tentang riset saya. Naga-naganya Professor tersebut tertarik dan benar saja, saya mendapat LoA sementara dari beliau. Alhamdulillah ya Allah. Ibu adalah orang pertama yang saya kabari. Rasanya nano nano saat itu

WhatsApp Image 2017-11-06 at 12.50.25
Surat Cinta dari NCU

Meski sudah dapat LoA sementara, posisi saya saat itu belum 100% di terima di NCU karena saya masih harus menghubungi Professor Chang yang mana risetnya sama dengan saya (Professor yang memberi LoA saya itu risetnya beda dengan saya, jadi saya di suggest ke Professor lain).

Akhirnya saya email beliau untuk menanyakan kesediaan menjadi supervisor saya. 1,2,3 jam belum di balas rasanya sedih, kesel, hopeless, tapi harus tetep khusnudzon pasti beliau sibuk.

7 November 2017

Akhirnya beliau membalas seperti ini..

Untitled

13 November

Ya, beliau meminta saya untuk membuat study plan. Butuh 6 hari bagi saya untuk membuat study plan. Proses membuat study plan saya mulai dari melihat topik penelitian beliau, membaca publikasi terbaru beliau, melihat kurikulum S2 di departemen tersebut, dan apa target saya selama kuliah di sana. Akhirnya saya kirim tanggal 13 November jam 09.01 WIB. Saya kirim sambil harap harap cemas.

Masih ingatkan bahwa pada posisi ini saya di PHP oleh 2 Professor. Pertama oleh Professor Chang dari NCU dan kedua oleh Professor Tabata dari The University of Tokyo.

Ternyata, sekitar jam 4 sore ada email masuk dari Professor Tabata. Qadarullah, ternyata beliau bersedia jadi supervisor saya. Saat itu saya Cuma bengong. Ya Allah, apa ini benar? Ini The University of Tokyo. Ya Tokyoooo yang 16 dunia itu. Kembali lagi, saya telpon ibu saya untuk meminta ridho dan nasehat.

Untitle2d
Surat Cinta Prof Tabata

1,2,3 hari berlalu

Rasanya nano-nano. Ga tau harus bagaimana. Posisi itu karena belum 100% diterima di NCU juga belum 100% diterima di The University of Tokyo karena saya juga harus mengirim dokumen hardfile dan mengambil test TOEFL sebagai persyaratan.

16 November 2017

Masuklah email dari Professor Chang. Saya lemes. Saya telpon ibu dan menangis. Allahuakbar. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Untitl222ed
Surat Cinta Prof Chang

Begitu cerita saya. Perihal mana yang harus saya ambil insyaAllah bukan saya yang memutuskan. Bukankah Allah sebaik-baik hakim? Harapan saya tulisan ini bisa menjadi penyemangat teman-teman dalam menghadapi segala persoalan di dunia ini.

Bermohon kepada Allah “Ya Allah bukan hamba yang mengatur urusan hamba, tapi Engkau ya Allah, Engkau yang Maha Mengatur segala urusan”.

Saya yakin setiap orang sudah ada rezeki masing-masing. Jangan merasa tertinggal atau lebih maju karena zona waktu setiap orang juga berbeda. Yang perlu dilakukan terus mendekat kepadaNya. Bukankah ada kalimat bijak dari Umar bin Khattab :

Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku

 

Solo, 16 November 2017

Diposting dengan izin dari Ibu.

Egy Adhitama

 

 

Advertisements