Bismillah, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana mendapatkan kesempatan kuliah di Luar Negeri bahkan sebelum lulus kuliah S1. Mungkin bagi sebagian orang bukan hal yang istimewa ya, tapi bagi saya yang lahir dari desa, bisa mendapat LoA (Letter of Acceptance) dari kampus di Luar Negeri adalah hal yang patut disyukuri. Dan bentuk rasa syukur ini menjadi tanggung jawab moral bagi saya untuk berbagi kepada teman-teman.

Artikel ini secara khusus saya tujukan untuk adik-adik Pendidikan Fisika, adik-adik Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM), dan teman-teman mahasiswa Universitas Sebelas Maret. Namun di luar UNS pun sangat boleh menjadikan artikel ini sebagai referensi dan pompa motivasi.

Sebelumnya saya sudah melakukan survei di IG ternyata banyak yang setuju kalau saya nulis artikel ini. Dari 303 orang, ada 99 orang yang vote yes, tapi ternyata ada 1 orang yang tidak berkenan. Ternyata dia adalah saya sendiri hahaha :D.

Polling WA

Oh ya untuk informasi, saya unofficially accepted (doakan agar semuanya lancar ya) di Graduate Institute of Material Science and Engineering, National Central University, Taiwan dan Department of Electrical Engineering + Department of Bioengineering, School of Engineering, The University of Tokyo, Jepang.  Untuk yang NCU saya sudah dapat kepastian beasiswa dari Professor, sedang UTokyo masih harus menunggu pengumuman beasiswa bulan Februari 2018 nanti.

Kenapa pilih NCU dan The University of Tokyo?

Jujur memang awalnya saya ingin melanjutkan kuliah di TU Delft, Belanda. Namun karena kuliah di Eropa mengharuskan mahasiswa lulus dulu sebelum apply jadi saya cari kesempatan lain agar sebelum lulus sudah ada kejelasan hidup untuk studi lanjut #ceileeh. Kebetulan 2 kampus tersebut sudi menerima saya. Secara peringkat, UTokyo malah jauh diatas TU Delft, sekitar 16 besar dunia untuk kategori engineering. Kalau NCU sekitar 350an besar dunia. Kedua kampus tersebut adalah research university.

Kampus di Asia Timur memiliki integrasi yang sangat baik dengan dunia industri. Malah biasanya Professornya lebih banyak proyek kerjasama dengan industri. Hal ini tentunya memaksa mahasiswa untuk mengerjakan riset-riset yang sangat relevan dengan kebutuhan dunia saat ini.

Alasan terakhir adalah beasiswa yang saya dapatkan bisa langsung cair. Hal ini beda kalau pakai skema LPDP yang mengharuskan keberangkatan 1 tahun setelah dinyatakan diterima, jadi harus LPDP dulu baru cari kampus (mohon koreksi kalau salah ya). Sedang saya maunya setelah lulus langsung berangkat S2. Apalagi beasiswa yang saya dapatkan di Taiwan pun support tunjangan keluarga :D.

Lalu bagaimana caranya?

Carilah motivasi mengapa harus kuliah di Luar Negeri. Motivasi ini akan berbeda-beda setiap individu dan menjadi sangat penting karena ketika futur atau kendor semangat, motivasi awal (niat) ini akan menjadi pelumas agar usaha kita tetap dalam keadaan on.

Awal dulu sekali saya ingat sekitar semester 1 akhir, Mbak Ratna Sariyatun (Pendidikan Dokter 2011, UNS) mengisi materi di WA tentang “meraih mimpi kuliah di LN”. Saat itu mbak Ratna juga belum lulus namun sudah diterima untuk kuliah skema S2+S3 di Osaka University. Saya tergugah saat itu, tapi pertanyaan yang terlintas di benak adalah “Apakah saya bisa?”.

Pertanyaan itu belum bisa saya jawab saat itu. Yang saya tahu saat itu harus mempersiapkan sebaik-baiknya, siapa tahu rezeki.

Pilih jurusan yang sesuai minat

Kuliah S2 bukan lah untuk gaya-gayaan. Tapi harus sesuai minat sehingga ada output dan outcome yang jelas ketika kita sudah selesai studi di sana. Jadi pastikan jurusan yang teman-teman pilih sesuai minat (udah barang jelas kalau ga sesuai minat ya bakal tersiksa).

Tentu orang akan bilang “pilih UTokyo aja mas, kampus terbaik di Jepang lhoo”. Tapi ada pertimbangan lain karena kalau pilih UTokyo saya akan melakukan riset tentang material untuk biosensor, meski saya sudah sedikit tahu ilmu tentang sensor dari pengalaman magang di BPPT, saya harus belajar ekstra dibandingkan kalau saya pilih NCU, karena saya akan riset tentang material untuk storage, yang sebelumnya sudah pernah saya lakukan di jenjang S1.

Pilih Professor yang sesuai minat

Benar teman-teman. Jurusan yang sesuai minat pun belum tentu pas dengan kita, karena kita harus mencari Professor yang risetnya match dengan interest kita. Sebagai contoh yaitu di jurusan Electrical Engineering, background Professor akan beda-beda. Ada yang riset di bidang neuroscience, semiconductor, mechatronics, power, quantum computing, dll (contoh klik : http://www.ime.t.u-tokyo.ac.jp/faculty/electrical+engineeringandinformationsystems.html).

So, teman-teman harus melihat profil dari Professor yang akan kita pilih. Biasanya setiap Professor memiliki laman pribadi yang menyediakan semua informasi Professor tersebut mulai dari jejak akademis, publikasi, afiliasi, dan laboratorium yang dipegang.  Teman-teman juga bisa mencari tahu rekam jejak publikasinya via scopus dan google scholar. Tinggal ketik saja dan pilih yang benar-benar cocok dengan minat kita.

Kontak Professor Tersebut

Perbedaan yang mencolok dari kampus di Asia Timur dengan Eropa dapat dilihat dari jalur pendaftarannya. Kampus di Asia Timur mengharuskan kita menghubungi Professor dulu, kemudian ketika beliau bersedia menjadi supervisor kita, baru kita bisa melengkapi dokumen lain. Nah, di sini faktor luck juga sangat berpengaruh karena tidak ada parameter pasti bagaimana biar bisa diterima Prof tersebut. Maka dari itu pas saya menghubungi Professor, saya selalu beroda sama Allah karena Dia adalah pemilik seluruh hati, termasuk hati Professor yang saya hubungi. Ya muqallibal qulub..

Memiliki Publikasi Internasional

Meski tidak ada parameter khusus, tapi saya punya clue dari hasil pengamatan saya agar si Professor ini jatuh hati dengan kita. Sebisa mungkin kita sudah memiliki publikasi. Ya, saya membaca pola bahwa kampus di Asia Timur sangat produktif untuk mempublikasikan artikel ilmiah, otomatis ketika kita sudah punya pengalaman riset, si Professor ini akan berpikir ulang untuk menolak kita.

Publikasi ini bukanlah sebuah keharusan, tapi akan sangat memperbesar peluang kita diterima. Saya pribadi memang sejak awal ingin lanjut kuliah di bidang ke-teknik-an (engineering) meski S1 saya dari Pendidikan Fisika. Maka dari itu sejak semester 3, selain saya aktif mengikuti lomba keilmiahan, saya juga mulai mendekati dosen untuk membantu riset beliau yang berbau ke-teknik-an.

Pada akhirnya riset yang saya lakukan membuahkan 3 publikasi internasional terindex scopus meski saya bukan first author dan levelnya masih proceeding. Oya, ini untuk kampus Asia Timur ya, kalau Eropa ternyata pengalaman publikasi tidak begitu ditekankan. Ini sudah saya konfirmasi ketika Dr. Dani dari University of Derby datang ke UNS.

Timing yang tepat

Ini penting dilakukan untuk mengukur kesiapan kita. Saya memiliki niat studi lanjut sejak semester 1, dan real action sejak semester 3. Bentuk real action nya adalah dengan melakukan riset. Tentu saja bukan hal yang mudah ya, namun alhamdulillah dapat terlewati. Kalau posisi teman-teman sekarang lebih dari semester 5 apakah mungkin untuk memulai? Mungkin saja, karena jalan setiap orang berbeda-beda.

Berbicara tentang timing, silahkan kepo-kepo website resmi Universitas yang teman-teman inginkan. Ini juga akan berkaitan dengan persiapan Bahasa Inggris. Untuk kampus Asia Timur cukup TOEFL. Namun untuk Eropa biasanya IELTS ataupun TOEFL IBT. Saya rasa belajar 30 menit/hari selama 1 tahun bakal berefek yang signifikan terhadap kemampuan Bahasa Inggris kita.

Kalau saya pribadi mendapat info bukaan UTokyo dari broadcast di WAG. Ketika itu banyak list universitas di Jepang yang available seperti Tohoku, Osaka, Kyoto, Titech, dll. Nah saya pilih UTokyo karena 3 hal : gratis biaya registrasi (tidak ada fee), GRE meski mandatory tapi bisa di waive, TOEFL bisa menyusul.

Persiapkan syarat yang dibutuhkan

Syarat bisa berbeda-beda ya, untuk lebih jelas memang harus kepo di website resmi. Dulu sempat kepikiran kok rumit sekali alurnya ya, tapi ternyata tidak serumit itu kalau ditelaah satu per satu dengan pikiran yang santai dan ganteng(?). Saya berikan brief introduction mengenai beberapa persyaratan yang biasanya dibutuhkan ya.

Curriculum Vitae

Buatlah semenarik mungkin. Saya pakai format europass karena ini format standar untuk apply di kampus Eropa.

Study Plan

Saya membuat ini sekitar 6 hari karena saya harus membaca publikasi Professor tersebut, Lab yang dia kelola, sampai kurikulum dari jurusan yang saya ambil. Di study plan juga saya paparkan mengapa saya pilih negara tersebut, jurusan tersebut, dan khususnya Professor tersebut. Di sini saya juga menjelaskan rencana saya saat kuliah dan selepas kuliah.

Research Plan

Bagian ini mutlak kita harus membaca publikasi Professor yang menjadi supervisor dan publikasi yang relevan dengan bidang Professor tersebut sehingga kita bisa mengetahui state of art nya (SOTA) serta celah untuk mendapatkan novelty atau kebaruan riset yang bisa kita kerjakan kelak. Research plan yang kita buat boleh jadi tidak akan kita kerjakan saat menempuh S2, tapi dari research plan si Professor bakal tahu seberapa jauh kita paham tentang bidang yang kita pilih.

Certificate of Expected Graduation

Ini merupakan sejenis jaminan bahwa kita akan lulus sebelum berangkat studi S2. Teman-teman bisa minta ke fakultas masing-masing. Kalau saya pribadi membuat sendiri dengan pengesahan dari Wakil Dekan Bidang Akademik.

Transkrip Sementara

Tentunya ini juga harus dipersiapkan ya. Kalau belum lulus berarti transkrip ini sampai semester saat kita mendaftar.

Recommendation Letter

Baiknya diberikan oleh orang yang benar-benar mengerti keadaan dan pribadi kita. Tapi kalau saya sendiri minta rekomendasi dari Wakil Rektor Bidang Akademik yaitu Prof. Sutarno dan pembimbing magang di PTM BPPT yaitu Prof. Ratno. Tau kan kenapa saya pilih beliau berdua? Hehe

Paspor

Kalau ini saya sarankan teman-teman buat dari sekarang. Buat dulu nanti toh terisi sendiri, insyaAllah.

Selain syarat diatas sebenarnya masih ada syarat GRE dan Bachelor Thesis. Jangan lupa baca ketentuan apakah harus mengirim dokumen dalam bentuk hardfile atau cukup online application. Kalau NCU tidak perlu, tapi untuk UTokyo saya harus mengirim dokumen ke sana langsung. Teman-teman bisa browsing sendiri terkait dengan ini ya.

Bonus buat teman-teman UNS

Setiap tahun rombongan Professor dari NCU datang ke UNS untuk mencari mahasiswa. Yang saya tahu selain UNS rombongan tersebut juga datang ke UGM, UB, dan ITS. Hal ini menjadi kesempatan emas bagi teman-teman untuk menarik hati Professor tersebut. Saya sendiri saat semester 5 sudah ikut interview tersebut. Ya jelas ditolak karena lulusnya masih lama, but itu jadi pengalaman berharga.

Akhirnya saya ikuti interview di semester 7 dan mendapat LoA. Syarat yang diperlukan sangat mudah yaitu application form, curriculum vitae, transcript, dan TOEFL. Bahkan saat interview saya tidak bawa sertifikat TOEFL. Ya, namanya saja sedang rezeki.

Berdoa dan serahkan semuanya pada Allah

Sure, all effort will be paid off. Kalau kata sahabat Ali r.a. bahwa kita akan bertemu kesuksesan disuatu titik hingga kita lupa pahitnya rasa sakit dalam perjuangan. Bermohon kepada Allah agar dimudahkan. Terhitung entah berapa kali saya dicuekin dan tidak di balas oleh Professor yang saya hubungi. Banyak kampus yang sudah saya coba seperti Kyushu, Tohoku, Osaka, HKUST, KAIST, NTU tapi ternyata rezekinya ada di tempat lain.

Jadi sulit ga sih buat diterima?

Sulit atau tidak itu relatif tergantung seberapa besar keinginan kita. Kalau keinginan kita besar, pasti yang sulit itu akan berusaha sekuat tenaga diatasi. “Saya udah semester 7 nih, apa mungkin bisa mengejar ya?”, “Saya bahasa inggrisnya jelek nih, gimana dong?”, “saya dari jurusan x nih, saya minder kalau mau daftar, gimana dong?”, “saya ga tau mau ambil jurusan apa, ada saran?”

Pertanyaan tersebut tak kira tidak perlu saya jawab ya karena memang bukan pertanyaan yang perlu dijawab. Artinya teman-teman pun sudah tau jawabannya.

Kurang lebih begitu ya, sekelumit yang bisa saya bagi semoga bermanfaat dan mohon doanya agar semua lancar dan bisa berangkat studi master tanpa halangan suatu apapun. Teman-teman boleh download file aplikasi saya di link berikut : http://bit.ly/jangkrikhitam

Kalau ada apa-apa feel free to ask. Boleh via komen, boleh via IG @egyadhitama kalau mau fast respon (eaaa ketauan promosi) haha.

Advertisements