Akhirnya saya memutuskan menjadi inactive user di instagram kemarin. Belakangan saya mempertimbangkan nampaknya lebih tenang kalau hidup tanpa diketahui orang banyak. Ternyata dunia yang tenang itu pernah saya dapatkan saat saya SMP. Kala itu saya bukan aktivis, bukan orang terkenal, pintar pun tidak (menengah saja), tubuhnya kecil dan bocah sekali, menjadikan saya siswa yang biasa-biasa saja. Sangat biasa-biasa saja. Beda seperti ketika saya duduk di bangku SD yang seolah saya adalah superstar. Beda juga ketika SMA di mana saya adalah petinggi organisasi wajib (pramuka). Semua orang mengetahui saya

Di dunia kampus sekarang, saya sudah terlanjur basah mengambil peran-peran yang dapat di kenal orang banyak. Akibatnya saya cukup terkenal di kampus. Belakangan saya merindukan masa-masa SMP. Masa-masa di mana orang melihat saya bukan dari apa yang saya capai. Tidak ada price tag prestasi, tidak ada price tag orang yang alim. Itu jauh lebih menenangkan karena kita tidak akan hidup berdasarkan atas apa yang orang lihat tentang diri kita. Saya ingin kembali kepada hakikat, bahwa semua yang ada pada hidup ini adalah ladang amal pribadi masing-masing.

Tentu muncul pertanyaan mengapa tiba-tiba saya seperti ini. Saya sendiri tidak tahu apakah keputusan saya ini akan bertahan lama atau tidak. Yang jelas kejadian yang menimpa saya belakangan ini membuat saya termenung.

Bahaya terbesar yang mengancam manusia yaitu ketika kita sakit tapi tak tahu bahwa kita sakit. Bahwa apa yang orang lihat tentang diri kita ternyata tidak sepenuhnya benar. Karena semua sifatnya sementara. Manusia memang tidak pernah benar-benar memiliki. Maka ketika kita mulai sedikit saja berharap selain kepadaNya, Dia akan menimpakan kepada kita pedihnya rasa kecewa.

Okay saya akan cerita keadaan realnya.

Disuatu titik saya pernah menyebarkan kabar bahwa saya di terima di NCU. Saya memang bisa jamin itu bukanlah suatu bentuk riya’. Saya hanya ingin memotivasi kepada orang lain bahwa memang ketika kita punya mimpi itu pantas untuk diperjuangkan.

Sampai kemarin ketika saya apply online, saat mengirim personal statement, saya lupa untuk mengedit nama kampus NCU. Akhirnya tertulis Murdoch University. Yes, I know ini sangat fatal. Bayang-bayang gagal kuliah S2 bergelayut. Saya kalut, saya ingin nangis, saya marah kepada diri saya sendiri.

Akhirnya saya sadar bahwa manusia memang tidak pernah benar-benar memiliki. Saya mencoba berdamai bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi setelah saya telusuri, ternyata bukan itu hal utama yang saya risaukan. Ternyata saya lebih merisaukan apa yang orang lain anggap terhadap diri saya kelak ketika mungkin NCU membatalkan untuk menerima saya. Apa kata dunia.

Sejurus kemudian saya sadar bahwa hidup saya telah berdasar standar hidup orang lain. Saya sering berhayal andai saja saat itu saya tidak share kabar LoA, andai saja saya bisa menahan untuk tidak selalu momposting apa-apa di IG, andai saja saya dulu mengambil peran untuk tidak banyak di kenal orang, andai saja.. andai saja..

Dan jadikanlah sabar dan sholat menjadi penolong. Saya ambil wudhu dan sholat dhuha. Kerisauan saya berkurang. Saya tidak peduli dengan apa hasilnya nanti. Semua sudah diskenariokan. Kalau memang Allah belum mentakdirkan saya kuliah S2 di NCU padahal semua orang taunya saya diterima, padahal semua dosen sudah memberi selamat, padahal sudah diliput koran, apabila ini sebagai bentuk pentarbiyahan dari Dia agar iman saya naik level, saya ikhlas. Saya berdoa agar senantiasa dikuatkan dalam iman dan islam.

Hari ini saya harus dengan lapang dada apabila kemungkinan terburuk itu datang dan saya harus bersiap merubah kembali road map hidup saya. Ketakutan pasca kampus yang dulu sempat hilang karena sudah diterima di NCU datang lagi. Lulusan pendidikan mau ngapain?

Tapi saya termenung, di surat Ad-Dhuha.

Maa wadda’aka rabbuka wamaa qalaa

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci” kepadamu.

Saya baca lagi

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci” kepadamu.

Saya menangis. Dia yang menunjukan jalan awal, Dia yang akan membimbing sampai akhir. Kenapa bisa keraguan itu muncul dalam diri saya? Pastilah karena lemahnya iman saya. Ya Allah kembalikanlah hamba ke jalanMu

Surat Ad Dhuha memberi kita gambaran yang amat baik tentang kehidupan. Ada tiga bagian dalam surat adh dhuha.

Bagian pertama berisi perintah Allah. Sebelum berjanji, sebelum memberi perintah, di bagian pertama surat ini, Allah terlebih dahulu menjelaskan gambaran kehidupan kita.

“Demi waktu Dhuha, demi malam ketika ia begitu pekat”.

Waktu dhuha adalah waktu yang nikmat, ketika matahari bersinar tidak terang, tidak menyilaukan mata dan udara di sekitar kita masih segar, tidak dingin tetapi juga tidak panas. Syaikh Tawfique Chowdhury menyebutkan bahwa waktu dhuha adalah gambaran tentang kehidupan kita yang nikmat dan menyenangkan.

Sedangkan malam yang pekat pada ayat ke dua menggambarkan tentang hidup kita yang sedang sempit. Pekat dan tidak ada sinar. Namun di malam yang demikian sesungguhnya adalah waktu yang paling baik untuk bermunajat.

Kita bermunajat di waktu sempit bukan untuk meminta pekatnya malam segera berlalu. Namun untuk mendekat kepada Allah dan memohon kekuatan dan keridhoan agar ujian yang kita alami dengan susah payah tidak sia-sia berlalu begitu saja tanpa ada berkah dan kebaikan apapun.

Maka dalam surat ini, kita belajar dengan utuh bahwa dalam naik turunnya hidup, Allah tidak pernah meninggalkan kita. Ia memberi kita petunjuk saat tersesat. Mencukupi kita ketika kita lapar.

Surat dhuha ayat 3-8 menggambarkan tentang janji-Nya bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita, bahwa kehidupan akhirat lebih baik dari kehidupan dunia, bahwa kelak Allah akan memberi karunia yang membuat hati kita menjadi puas.

Dalam surat dhuha, Allah menyuruh kita berbuat baik, bukan menyuruh kita untuk menangis dan bertanya mengapa hal-hal yang menyulitkan ini terjadi.

Cukuplah kita ingat bahwa tugas kita adalah menjadi manusia yang bermanfaat. Maka ketika kesempitan melanda, kita syukuri apa yang masih kita punya dan gunakan semua untuk berbuat baik.

Selalu ingat semua nikmat Allah, sebut satu persatu. Agar kelak ketika hari mulai terang kembali, kita tidak menjadi angkuh dan tetap ingat bahwa nikmat yang kita rasa di hari itu adalah titipan dari Allah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat

 

Advertisements