Ada satu kaidah yang saya  terapkan: menyelamatkan hati dan kemuliaan lebih utama dari menjaga perasaan seorang teman (baca dulu sampai akhir ya). Prinsip ini bukan hal yang datang dengan tiba-tiba. Setelah 21 tahun hidup, saya mengalami banyak asam garam kehidupan, termasuk soal hubungan dengan lawan jenis.

Saya yakin, meski tidak seluruhnya, sebagian besar anak laki-laki yang beranjak dewasa pasti pernah mengalami fase di mana ia sangat senang bertegur sapa dan berinteraksi melalui fitur daring, baik itu sms, line, ataupun WA dengan lawan jenis. Begitupun saya, dulu.

Pasti rasanya menyenangkan apabila tiap hari kita bisa berchatting ria dengan teman-teman kita walau hanya sekedar basa-basi. Tiduran di kasur sambil memegang hape dengan senyum simpul dan sesekali tertawa sendiri karena chat dari dia pasti pernah kita semua alami.

Saya tipe orang yang mudah membaur, menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan saya juga berusaha menjadi orang yang baik kepada semua orang terlepas dari bagaimana orang tersebut. Mungkin karena itu keterterimaan saya di lingkungan yang sedang/akan saya tempati lumayan luas. Karena hal tersebut, dulu, HP saya tidak pernah sepi dari chat personal entah urusan penting ataupun tidak penting.

Dan dari sekian banyak chat pasti ada yang berasal dari orang yang spesial (in case, at that time). Dan pasti sebisa mungkin kita terus berusaha (nguri-uri) agar chat tersebut tetap berlanjut, bahkan terkadang hingga larut malam. Yes, it was me several years ago.

Waktu berlanjut diiringi umur yang semakin bertambah, saya belajar bahwa mungkin terlalu baik kepada banyak lawan jenis bukanlah hal yang bijak. Hal tersebut dapat membuat mereka terlalu nyaman di dekat kita dan membuat mereka merasa aman untuk membuka cerita kepada kita. Tak ada yang salah memang, tapi satu hal, sikap seperti itu seperti bom waktu, tinggal menunggu kapan meledaknya. Mungkin bagi para laki-laki menganggap hal tersebut biasa, tapi kita tidak tahu hati orang (apalagi perempuan). Tindakan yang biasa bagi laki-laki bisa bermakna dalam bagi perempuan.

Dulu saya selalu berargumen “yang penting saya tidak pacaran”. Hey, itu sama saja. Tidak pacaran, tapi chattingan dan mengusahakan selalu ada adalah hal yang relatif sama. Di satu titik saya menjadi sadar. Kita tidak perlu terlalu dekat kepada mereka semua jika sekedar ingin menjadi laki-laki yang baik, bukankah demikian?

Kalau karena menjaga diri dari hubungan dan interaksi yang tak semestinya mengakibatkan kita di cap begini begitu, it’s okay. Ketika batas menjadi pondasi awal yang mesti kita bangun kuat-kuat, disitu pula kita perlu menegakan prinsip yang akan kita pegang teguh untuk membuat pondasi yang kokoh.

Apabila ini dianggap suatu bentuk hijrah, mungkin kalimat tersebut bisa jadi benar. Karena hijrah merupakan sebuah dinamika hidup yang tidak boleh statis dan harus selalu bergerak menuju perbaikan, maka setiap yang bergerak pasti mengalami benturan. Begitupun proses saya ini. Banyak yang jengkel dengan saya karena saya balas seperlunya “ya”, “ok”, “sip”, dll. Beberapa hari yang lalu malah sampai ada yang kebakaran jenggot dan chat saya panjang x lebar. Ya saya terima masukannya, tapi tetap tidak merubah prinsip. Lebay? Perhaps, but kembali lagi ke prinsip awal “menyelamatkan hati dan kemuliaan lebih utama dari menjaga perasaan seorang teman”. Malah pada hakikatnya, dengan mengurangi intensitas komunikasi yang tidak perlu adalah menjaga perasaan orang tersebut.

Dulu, sekitar semester 3, di mana saya memulai mengurangi hal-hal tidak berfaedah dalam chattingan rasanya sangat berat. HP yang awalnya selalu ramai mendadak sepi, rasanya gatel dan ingin memulai komunikasi. Maybe you know how it feels. Alhamdulillah, setelah hampir 3 tahun, terlewati juga dan sekarang terasa enteng. Achievement unlocked :D.

Agak serius tulisan ini. Mungkin diakibatkan fase U21 menuju usia yang lebih lanjut karena sudah mulai berfikir tentang banyak hal, termasuk dengan siapa kita akan menghabiskan usia. Saya tidak mau kejadian yang menimpa kakak saya terjadi kepada teman-teman perempuan saya, apalagi kalau penyebabnya adalah saya. Sekarang, yang menjadi tugas saya sekarang adalah mengurangi isu “cie-cie” yang berkembang luas. Saya sadar bahwa ini semua totally kesalahan saya. Semoga masih bisa memperbaiki dengan benar-benar menjaga.

Advertisements