3 tahun 8 bulan waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan kuliah sarjana saya. Relatif cepat, tapi diimbangi dengan beban yang berat pula. Kenapa? Karena dosen saya menargetkan jurnal internasional. Maka dari itu skripsi saya dipermudah oleh beliau.

Di titik ini, tepat ketika teman-teman membaca tulisan ini, saya tinggal menghitung hari untuk menuju hari H wisuda saya yang jatuh pada 28 April 2018. Bagaimana perasaannya? Bagi saya pribadi yang terbiasa “berjalan cepat” ini sangat menyiksa. Dulu masih ada teman dari organisasi, masih ada teman dari jurusan, masih ada kesibukan kuliah dan tugas ini itu. Kini seolah semua hilang.

Maka penyakit laten dari fresh graduate adalah kontra produktif. Aktivis yang biasanya sibuk dengan rapat, dengan menulis karya, tiba-tiba menghilang seolah ditelan bumi. Pasca lulus kita akan dihadapkan pada berbagai keadaan. Malu untuk meminta uang ke orang tua, tapi juga belum juga mendapat kerja. Rasanya bingung dan kosong. Mau cerita ke teman tapi takut mengganggu aktivitas mereka dan mereka juga punya kesibukan sendiri. Yah, I feel it since several week ago. Tapi saya tidak mau itu berlarut-larut

Menyadari semua itu, saya merasa perlu melakukan sesuatu, hingga saya pun menyusun ulang apa saja yang menjadi amanah saya dalam sepekan dan mencoba memanfaatkan waktu-waktu senggang untuk bisa mengerjakan to do list harian. Harus keluar dari zona nyaman.

Hari kemarin saya mendatangi kantor DiLo Solo untuk menimba ilmu tentang dunia startup. This is my very first experience attending such event. Dulu saya lebih sering datang ke seminar tentang dunia keilmiahan dll, sama sekali belum pernah menyentuh dunia bisnis. Setelah menerima materi saya merasa ditampar, bagaimana tidak, pembicaranya baru 18 tahun, but he got incredible achievement and experience.

Dia memiliki project yang berkolaborasi dengan Kominfo dan cerita juga bahwa sekarang sedang menggarap try out online SBMPTN karena uangnya kenceng. What? Itu ide ku 4 tahun lalu. Bahkan dulu sudah jadi webnya, timnya sudah ada. Tapi memang tidak sustain karena saya kurang channel. Hiks hiks. Ternyata memang ada otak-otak bisns didiri ini ya meskipun sedikit haha. Sepertinya asik untuk mendalami dunia start up ini. Yang perlu saya lakukan adalah menerapkan filosofi nelayan.

Bila diibaratkan lautan luas, begitulah kiranya perjuangan pasca kampus. Ada kalanya arus dan ombak sedang pasang, ada saatnya pun arus dan ombak benar-benar tenang. Maka, sudah layak kita untuk belajar dari seorang nelayan tentang kewajibannya mengarungi lautan. Seperti itu pulalah laiknya kita mengarungi kehidupan pasca kampus.

Nelayan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti ketika laut telah diarungi, kapan waktunya Ia akan kembali dan seberapa banyak tangkapan yang akan Ia bawa pulang. Hanya berbekal sedikit peralatan, lalu bagian terbesarnya Ia pasrahkan pada takdir Tuhan.

Begitupun kita pada awalnya. Kita tak tahu bagaimana hasil dari ikhtiar kita. Kita hanya dibekali sedikit keberanian, lalu kisah akhirnya baik itu bahagia atau kecewa mau tak mau kita serahkan pada kuasaNya.

Nelayan akan selalu maklum akan resiko yang ia hadapi nanti. Bagaimanapun, tak ada pekerjaan yang gampang. Bilapun ombak tenang, tak ada yang akan memberitahunya kalau angin kencang akan datang, atau justru perahunya tersangkut di karang. Bila telah maju, maka pantang berpulang di setengah jalan.

-Maka dari itu nelayan butuh pendamping #lho (?)- hahahapasih

nelayan_di_pulau_dewata
Sumber : trekearth.com
Advertisements