Pada beberapa hal dalam hidup ini, mungkin kita harus salah dulu, baru belajar. Agak samar tapi saya masih ingat beberapa detil kejadian saat itu. Ceritanya saya sudah menyanggupi janjian dengan dosen, tapi karena suatu keadaan saya datang telat beberapa menit. Singkat cerita dosen tersebut bilang dengan nada sangat tinggi “Anda tidak akan dihargai apabila tidak tepat waktu”.

Sejak saat itu saya belajar bahwa value seseorang bisa dilihat dari bagaimana cara dia memegang prinsip. 100% saya salah untuk kejadian itu, karena saya sudah menyanggupi untuk datang diwaktu yang sudah disepakati. Kecuali kalau saya menyampaikan ke dosen tsb bahwa saya akan datang telat.

Telat itu sangat kejam by the way. Dalam kejadian telat, yang dihukum adalah mereka yang datang tepat waktu. Mereka dihukum untuk menunggu orang yang telat. Aneh ya? Biasanya yang dihukum adalah orang yang melakukan kesalahan, tapi dalam kasus ini yang dihukum adalah orang yang menepati aturan/perjanjian.

Sekarang mari kita simulasi.

Bagaimana respon natural Anda apabila sudah menyanggupi janjian jam 7 pagi? Apakah akan prepared well sehingga datang tepat waktu? Atau menunggu jam 6.45 baru persiapan dan memperbesar kemungkinan untuk datang telat?

Bagiaman respon natural Anda apabila sudah menyanggupi menjadi pengurus organisasi X meski sebagai anggota? Apakah akan menjalankan amanah dengan baik dan mengusahakan selalu ada? Atau menomorduakan organisasi tersebut karena ada prioritas organisasi lain?

Bagaimana respon natural Anda apabila ada kesempatan mencontek disaat otak sedang zonk dan posisi ujian itu sangat penting untuk masa depan Anda terlebih semua teman-teman Anda mencontek? Apakah tetap ideals untuk murni mengerjakan secara jujur atau mencontek agar nilai setidaknya aman?

J

Prinsip adalah suatu hal yang apabila semua orang melawanmu, kamu akan tetap teguh memegang prinsip tersebut. Tentang prinsip, hal ini biasanya menjadi penyakit laten mahasiswa, bahkan bagi mereka yang terkenal keren/aktivis/apapun di kampus. Tidak sedikit yang membesar di kampus tapi ternyata amburadul dari segi value diri. Bisa jadi dia memegang jabatan tinggi ataupun achivement lain tapi untuk sekedar menjalankan amanah saja masih terseok-seok.

Kadang alasannya sungguh lucu. “Maaf, saya ada agenda lain”. Bagi saya sekali dua kali masih bisa ditolerir. Tapi kalau berkali-kali? Is not tolerable. And that kind person would not well-survived in professional career. Kalau sudah seperti itu berarti memang value dari orang tersebut ya hanya sebatas itu. Penilaian saya ini objektif, karena memang ketika di awal dia sudah ada komitmen untuk beramanah ya harus dipegang terus komitmen untuk beramanah itu.

Dua kebaikan itu tidak boleh saling dibenturkan.

Anda menjadi pengurus organisasi X. Anda juga sebagai mahasiswa yang harus lulus. Saat ada jadwal rapat, Anda berhalangan hadir karena akan menyelesaikan tugas (again, sekali dua kali tidak masalah, tapi kalau berkali-kali?). Ini namanya tidak profesional karena membenturkan 2 hal yang sama-sama baik.

Dua hal yang sama-sama baik tidak pas untuk dibenturkan apalagi menjadi legitimasi untuk meninggalkan salah satunya. Dan perlu diingat bahwa teori labeling benar adanya. Orang ketika sudah paham dan melihat value dari orang lain, maka ia akan terus memandang orang tersebut akan berperilaku seperti itu terus (meski ada peluang untuk berubah lebih baik). Itulah namanya price tag. Jangan sekali-sekali merusak kepercayaan orang kepada kita. Orang bilang bahwa kepercayaan itu ibarat kertas, ketika sudah diremuk mungkin masih dapat kembali, tapi tetap lusuh dan tidak bisa persis seperti sedia kala.

Advertisements