Pada saatnya setiap perjuangan akan menemui ujungnya. 28 April 2018, saya akan melepas status saya sebagai mahasiswa S1 UNS. Sengaja saya pos speech yang saya buat di blog meski bukan saya yang mewakili mahasiswa untuk sambutan saat wisuda (padahal udah nunggu undangan dari akademik pusat haha).

Saya berbicara dipojok kamar membayangkan bahwa saya yang mewakili mahasiswa untuk memberikan sambutan wisuda. Sengaja saya tulis dan kutip pidato wisuda tersebut disini untuk tetap mempertahankan energinya setiap saat saya kembali membacanya.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allah SWT, untuk-Mu lah segala puji atas nikmat dan karunia yang Kau beri hingga hari ini, 28 April 2018,  kita dapat hadir bersama-sama di Auditorium Universitas Sebelas Maret untuk melepas wisudawan dan wisudawati yang telah berjibaku untuk memerdekakan dirinya, mendidik nuraninya, agar menjadi pribadi-pribadi yang mampu memberikan sumbangsih kepada Indonesia

Nabi Muhammad SAW, shalawat serta salam tak lupa tercurah kepadamu beserta para keluarga, para sahabat serta para pengikut hingga akhir zaman. Semoga kita termasuk pada para pengikutnya yang mendapat syafaat pada hari akhirat kelak. Aamiin.

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Di sinilah kita semua sekarang. Perkenalkan saya Egy Adhitama, Mahasiswa S1 Pendidikan Fisika 2014. Saya meyakini bahwa di antara kita semua yang hadir pada hari ini, ada banyak sekali wisudawan yang lebih layak memberikan sambutan dan berdiri di panggung ini.

Mereka lah para mahasiswa berprestasi, delegasi perlombaan-perlombaan Nasional maupun Internasional, pemenang kompetisi antar Universitas, juaranya penelitian, peraih medali emas Pimnas, para pembesar-pembesar lembaga mahasiswa hingga kawan-kawan yang berhasil meraih IPk luar biasa baik di masa perkuliahannya.

Maka dari itu, para hadirin sekalian, sekiranya dalam konten sambutan ini, terdapat hal-hal yang tidak cukup mewakili para wisudawan dan tidak pula sesuai dengan kehendak para wisudawan/wisudawati sekalian, permintaan maaf saya sampaikan kepada para wisudawan/wisudawati sekalian sebelumnya. Terimakasih.

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Pada awal April 2018 ini Kementerian Perindustrian meluncurkan “Making Indonesia 4.0” yang berisi peta jalan revolusi industri 4.0 di Indonesia. Peristiwa ini bagian dari upaya merespons apa yang ditulis Klaus Schwab dalam The Fourth Industrial Revolution (2017).

Apabila peta jalan industrialisasi telah tersusun, bagaimana dengan peta jalan lulusan pendidikan tinggi untuk merespon Revolusi Industri 4.0. Bagaimana strategi adaptasi terhadap perubahan ini? Hadirin sekalian, Revolusi Industri 4.0 dicirikan dengan berkembangnya Internet of/for Things yang diikuti teknologi baru dalam data sains, kecerdasan buatan, robotik, cloud, cetak tiga dimensi, dan teknologi nano, yang telah mendisrupsi inovasi-inovasi sebelumnya.

Dengan perkembangan teknologi tersebut, kini orang bisa berjualan tanpa harus punya toko. Orang bisa berbisnis taksi tanpa harus punya mobil. Kondisi inilah yang telah membuat hilangnya sejumlah pekerjaan. Namun, sebenarnya era baru ini telah menciptakan berbagai jenis pekerjaan baru yang menggantikan pekerjaan lama. Di AS, ada 3.508 yang hilang tapi ada 19.263 jenis pekerjaan baru yang dibuat. Sementara pada tingkat global, ada sekitar 75 juta hingga 375 juta pekerja perlu beralih ke pekerjaan baru dengan keahlian baru. Sepuluh tahun lalu, siapa yang pernah terlintas istilah seperti manajer media sosial, search engine optimization (SEO) specialist, atau data mining specialist yang diburu hari ini? (Global Institute Analysis Mc Kinsey, 2017).

Dinamika perubahan di atas semakin tak terelakkan. Namun, persoalannya, dampak rasional perubahan pada pola kehidupan sekaligus dunia kerja ialah munculnya tuntutan kecakapan baru. Hari ini, salah satunya ialah cloud computation, yakni pemanfaatan komputer dengan internet guna memungkinkan pengerjaan proses komputasi dan penggunaan data secara bersama di tempat berbeda serta sesuai permintaan. Teknologi ini sudah dan diperkirakan akan memangkas jenis pekerjaan administrasi perkantoran dan pendokumentasian rutin berdasar pada rangkaian aturan prosedural logika yang sudah jelas dan pasti. Pekerjaan yang dapat dirumuskan dengan “jika-maka” semacam ini memang cocok dan andal jika dikerjakan oleh mesin. Misalnya petugas teller di bank sudah berkurang dan sebagian tugasnya digantikan ATM.

Sebaliknya, dan menariknya, jenis pekerjaan yang sifatnya berdasarkan analisis serta kreativitas, seperti pengambilan keputusan, perencanaan, dan penciptaan gagasan baru, justru aman dan tak terlalu dikacaukan guncangan teknologi. Jenis pekerjaan yang butuh kecakapan bernalar kompleks akan tetap ada, sebaliknya pekerjaan berlandaskan kecakapan berpikir rutin dan prosedural, termasuk hafalan, akan punah.

Juga diperkirakan orang akan semakin sering berganti pekerjaan. Sekarang saja, misalnya, sudah jamak dokter yang menjadi direktur rumah sakit dan mau tak mau harus belajar manajemen kepegawaian, bahkan keuangan. Ini tentu berita buruk bagi orang yang tak suka belajar, tetapi berita menggembirakan bagi yang gemar belajar hal baru. Modal utama di dunia kerja telah berganti: dari memiliki pengetahuan menjadi cakap dan bergairah belajar hal baru.

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Ada langkah penting yang dapat kita lakukan sebagai elemen dan alumni institusi pendidikan tinggi yakni sebagai berikut. Pertama, perubahan pola pikir atau orientasi PT dari “konsumen” ke “produsen” dalam bentuk karya ide, pemikiran, pengetahuan, teori atau barang. Perubahan ini akan tercermin dari neraca aktivitas keseharian Di sinilah mestinya manusia lulusan pendidikan tinggi memiliki orientasi mengunggah dengan memperbanyak karya riset dan inovasi untuk menginspirasi dan memberi manfaat bagi publik, baik pada level lokal maupun global. Perubahan orientasi ini penting seiring harapan publik sejak dulu yang menganggap PT adalah sumber perubahan, penentu kecenderungan, dan bukan penonton perubahan. Mestinya PT bisa berciri 5.0 di saat industri baru memasuki 4.0.

Berbagai tantangan yang ada di depan kita dan siap menghadang untuk diselesaikan seolah menarik mundur bagaimana perjuangan semasa perkuliahan di Universitas Sebelas Maret ini. Perjuangan tersebut membuat makna wisuda hari ini menjadi bermakna ganda. Wisuda ini bermakna perpisahan karena ujung dari perjuangan selama masa perkuliahan adalah pada hari ini. Perpisahan ini pasti akan sangat berat, penuh dengan memori indah yang akan dirindukan. Bisa saja setelah pertemuan di wisuda ini, tidak akan ada lagi pertemuan di antara kita setelahnya. Maka para wisudawan, wisudawati nikmatilah momentum wisuda ini dengan penuh kesukacitaan.

Pada kenyataannya wisuda ini pun bermakna perjuangan! Setelah wisuda hari ini peran dan kiprah kita akan semakin bertambah.

Perguruan tinggi sejatinya tidak sekedar melahirkan kerbau–kerbau pembajak sawah, namun para petani yang siap mengolah sumber dayanya menjadi lebih produktif bagi rakyatnya.

Tidak boleh ada keraguan akan kemampuan pribadi sekecil apapun kemampuan itu. Tidak boleh ada perasaan minder atas kecilnya kontribusi kita di masyarakat nantinya. Kalau bukan sekarang kapan lagi, Kalau bukan kita siapa lagi.

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Perjuangan semasa perkuliahan akan menjadi seperti perjuangan tak tahu arah dan tujuan apabila dalam perjalanannya tidak ada yang memandu dan memberi arah. Beliau-beliau lah para dosen-dosen dan tenaga pendidik yang telah mencurahkan segala ilmu dan pengalamannya kepada kami. Beliau-beliau lah yang bagaikan oase di gurun pasir dengan penuh keikhlasan mengajari kami, mendidik kami dan mengingatkan kami apabila dalam proses belajar kami menemui kesalahan.

Beliau-beliau lah yang selalu sabar dan tanpa mengenal lelah menjadikan kami yang tak tahu menjadi tahu, yang belum bisa menjadi bisa dan yang belum paham menjadi paham. Maka untuk segala kebaikan yang telah tercurah dari beliau para dosen dan tenaga pendidik, kami mohon kepada seluruh wisudawan untuk bisa berdiri…

Mohon kepada para wisudawan untuk dapat memberikan applause terbaik kepada bapak/Ibu dosen yang ada di hadapan para wisudawan sekalian. Terimakasih bapak/Ibu Dosen dan tenaga pendidik sekalian.

Setiap perjuangan pasti membutuhkan alasan, bagi kami tidak sulit untuk menemukan alasan atas segala kerja keras, usaha tak kenal lelah, tangis air mata kegagalan, keringat pengorbanan hingga akhirnya bisa menyelesaikan ini semua. Kepada Ayah dan Ibu kami, kami ucapkan terimakasih. Ini semua untuk ayah dan Ibu. Untuk itu, Mohon kepada para wisudawan bisa memberikan applause kepada para Orang Tua yang ada di hadapan para wisudawan sekalian. Terimakasih.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Saya mohon maaf apabila ada kata yang tidak berkenan di hati hadirin sekalian. Saya tutup sambutan ini dengan sebuah kutipan dari pidato Emha Ainun Najib, tentang fitrah kita sebagai manusia yang terididik.

“Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah. Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?”

Terimakasih.

Wassalamualaykum Wr. Wb.

 

Advertisements