Ramadhan memang telah berlalu dan saya yakin setiap individu memiliki ceritanya masing-masing. Ramadhan tahun ini merupakan ramadhan terakhir di Indonesia sebelum berangkat ke Taiwan (insyaAllah, doakan ya) dan di post kali ini saya ingin berbagi sedikit pandangan mengenai fenomena yang biasa terjadi di bulan yang mulia ini.

Di Ramadhan ini saya bersyukur dan malu.

Bersyukur. Bersyukur karena saya mendapat ilmu dan inspirasi dari beberapa kejadian seperti cerita panjang lebar dari Pak Sunardi dan inspirasi dari anak kecil yang melakukan iktikaf bersama ayahnya. Benar memang ayah dan ibu merupakan madrasah terbaik bagi anaknya. Bentuk pentarbiyahan ini bisa dilihat dari sikap dan kebiasaan sang buah hati.

Saya masih ingat betul di Masjid Al-Manar, dengan khusyuknya anak tersebut melantunkan ayat suci Al-Quran sampai jam 22.00 WIB, meski belum sempurna pelafalannya namun hal tersebut adalah hal yang luar biasa keren bagi saya. Masuk jam 02.00 WIB dini hari, ayah dan anak tersebut mengambil air wudhu. Benar, mereka melaksanakan sholat tahajud. Luar biasanya, yang jadi imam adalah anak tersebut, sedang bapaknya yang menjadi makmum.

Malu. Malu karena saya merasa amal ibadah saya saat Ramadhan ini sudah banyak padahal sangat sedikit sampai saya mengetahui secara persis bahwa ada orang di luar sana yang mampu khatam 30 juz Al-Quran dalam 1 hari. Ada juga yang sampai puasa hari ke-21 sudah mengumpulkan 284 juz. Ya Allah…

Another side story from Ramadhan

Benar memang kata mubaligh yang sering ceramah di mimbar, Ramadhan ini, dalam setiap harinya senantiasa mengalami kemajuan. Indikator kemajuan yang paling bisa dilihat adalah kemajuan shaf sholat tarawih. Yang pada awalnya berebut untuk kebagian shaf, semakin hari malah semakin kosong, apalagi mendekati akhir Ramadhan, fenomena ini kentara. Penyebab terbesarnya adalah ajakan untuk buka bersama berkedok reunian.

Saya bukan orang yang anti buka bersama sebenarnya, tapi saya merasa ada hal yang kurang pas (meski saya masih melakukan buka bersama). Silaturahmi, bertemu kawan lama, diselingi nostalgia bukanlah hal yang buruk. Namun, adalah hal yang kurang pas apabila dilaksanakan saat bulan puasa diwaktu prime time kita untuk beribadah kepadaNya. Hal ini dapat mengurangi khusyuk ibadah kita kepada Allah SWT, bahkan yang lebih parah yaitu menunda (atau meninggalkan) sholat tarawih. Meski hukumnya sunnah, apakah ada yang bisa menjamin bahwa kita masih diberi kesempatan untuk sholat tarawih di kemudian hari?

Muhasabah

Bulan Ramadhan juga bulan paling baik untuk memperbaiki diri. Apakah kita benar-benar gembira akan kedatangannya dan benar-benar bersedih apabila ia berlalu?

Jujur, saya khawatir kepada diri saya sendiri. Mengingat pada zaman sahabat bahkan mempersiapkan 6 bulan sebelum Ramadhan untuk persiapan, dan 6 bulan setelah Ramadhan untuk lebih meningkatkan kadar ibadah daripada Bulan Ramadhan. Saya khawatir menjadi alumni Ramadhan yang gagal. Sering terjadi bentrok antara urusan ibadah dengan urusan dunia yang menjadi alasan untuk menunda melakukan amalan akhirat

Saya takut bahwa bisa jadi ibadah saya hanya sebatas fisik tanpa menghadirkan jiwa. Saya takut menganggap ibadah saya sudah banyak, padahal sangat sedikit.

 

Advertisements