Abstract. How much did you spent your money as college student? This finding probably become scientific breaktrough that will reveal a big question of the century (haha). Of course the result of this research would be different for each person depend on their life style, their need, their city where they school, and maybe their major. Simply, the difference is not a problem because our main goal is to make the reader realize that during school, the student had spent very big amount of money so they have to be more grateful.

(note : This is long post and we will present this article using scientific paper style and will explain it using both English and Bahasa Indonesia)

Introduction

Well, hai pembaca yang budiman (kaya ada yang baca aja haha). Seperti yang dipaparkan diatas, pada artikel ini saya akan berbagi riset kecil-kecilan saya untuk menjawab pertanyaan “Seberapa banyak uang yang dihabiskan selama kuliah?”. Artikel ini dibuat untuk mencari data ilmiah mengenai pengeluaran (saya) karena selama ini saya hanya menerka-nerka dan berasumsi apakah saya boros atau tidak. Tanpa data yang valid, maka penentuan boros atau hemat tidak dapat ditentukan.

Di artikel ini juga diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi pembaca bahwa menjadi anak kuliah ternyata memakan uang yang tidak sedikit (ah spoiler haha). Maka dari itu kita harus menjadi pribadi yang bersyukur kepada Allah SWT dan menjadi anak yang memiliki rasa terimakasih kepada orang tua.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,…” (QS. Ibrahim : 7)

Methodology

Data diambil menggunakan aplikasi “catatan keuangan” di HP android dari 19 September 2016 hingga 12 September 2017. Data kemudian di ekspor menjadi format csv dan diolah menggunakan Microsoft Excel. Kategori pengeluaran dibagi menjadi 7 yaitu belanja, jajan, lain-lain, makan, pendidikan, teman, dan transportasi. Data selama satu tahun akan direduksi untuk mencari proyeksi data agar didapat total pengeluaran selama 4 tahun.

Result

Bagi pembaca yang mengira saya orang yang rajin, bisa jadi benar dan bisa jadi tidak. Saya juga tidak menyangka bisa begitu tekun untuk mencatat setiap pengeluaran saya. Saya catat setiap detil pengeluaran setelah selesai kegiatan tersebut. Misal, setelah selesai makan siang maka akan segera saya catat pengeluaran makan saya di hari itu. Berikut adalah dokumentasi dari catatan pengeluaran saya.

tabel 1

Tabel 1. Contoh Pencatatan

Akhirnya hingga satu tahun setiap detil pengeluaran saya catat termasuk isi bensin, servis motor, beli baju online, print tugas, futsal, sampai bayar parkir pun saya catat. Berikut adalah catatan perbulan dalam bentuk tabel dan grafik.

tabel 2

Tabel 2. Data dalam Bentuk Tabel

gambar 1

Gambar 1. Data dalam Bentuk Grafik

Sebagai catatan bahwa apabila tinjuan data per-bulan, maka data bulan Juni 2016, Agustus 2017, September 2017 tidak valid karena data diambil tidak penuh 30 hari yang menyebabkan hasilnya jomplang dibanding data bulan lainya.

Sekarang mari kita lihat bulan Oktober 2016 di mana saya spent cukup hemat yaitu di angka 500 ribu. Pada bulan ini setelah saya lihat memang saya berhemat dengan melakukan pengeluaran seperlunya saja hanya untuk makan (which solo is well-known with very cheap cost of food. Imagine, just Rp 7.000 you can eat chicken+vegetables+rice with ice tea as baverage) dan sedikit jajan, bahkan tanpa belanja.

Masuk ke November 2016 dan Februari 2017 di mana saya habiskan uang yang relatif sama yaitu sekitar 800 ribu. Pada bulan ini pengeluaran meningkat diakibatkan oleh alokasi untuk nonton film (surga yang tak dirindukan 2 haha), transportasi kebumen-solo, dan yang paling signifikan adalah belanja online di Lazada yaitu sebesar 200 ribu. Hmm ketahuan deh ternyata belanja itu membuat pengeluaran membengkak.

Untuk Desember 2016 dan Januari 2017 pengeluaran semakin membengkak yaitu di angka 1.2 juta. Selidik punya selidik ternyata pada bulan ini saya sedang fokus TA sehingga alokasi 320 ribu untuk membeli sensor, beli speaker di Lazada 100 ribu, beli kaos 120 ribu. Selain itu saya juga mentraktir teman-teman Ristek sebesar 30 ribu, juga membeli tripod seharga 70 ribu. Apabila dipikir-pikir, lumrah juga bisa membengkak sebegitu besarnya.

Masuk satu tahun yang lalu atau Juli 2017, pengeluaran saya 2 juta! Penasaran, ternyata saya membeli peralatan mendaki sebesar 170 ribu, kemudian membeli sajadah untuk ibu sebesar 210 ribu. Agak mahal memang, tapi sajadahnya bagus. Dan untuk orang tua kita tidak perlu hitung-hitungan. Benar kan pembaca? 😀

Saya juga ingat bahwa di bulan ini saya membeli oleh-oleh seperti kaos, batik, dan kain untuk dibawa ke Thailand karena menjadi SEA Teacher awardee selama satu bulan. Saya membeli oleh-oleh sekitar 770 ribu. Lumayan boros juga, tapi tidak apa-apa karena saat itu saya menggunakan uang lumpsum dari fakultas haha. Selain itu di bulan ini, saya juga mentraktir teman saat sunmor sebesar 35 ribu, membuat kartu nama 30 ribu, dan mengirim dokumen untuk Widha ke Tangerang sebesar 26 ribu (Widh, kalau kamu baca ini ganti uangnya ya hahaha).

Pengeluaran beradasarkan kategori

Seperti yang sudah disinggung di atas, saya mengkategorisasi pengeluaran menjadi 7 yaitu : belanja, jajan, lain-lain, makan, pendidikan, teman, dan transportasi. Keterangannya adalah sebagai berikut :

  • Belanja : Keperluan sehari-hari, seperti sabun, sampoo, dll
  • Jajan : Konsumsi di luar makan, seperti beli batagor, susu segar dll
  • Makan : Definitely makan pagi, siang, malam
  • Lain-lain : Semua diluar kategori lain, misal futsal
  • Pendidikan : Print tugas, beli bolpen, dll
  • Teman : Traktir teman, makan berat maupun ringan
  • Transportasi : Akomodasi, misal tiket kereta kebumen-solo, gojek, BST, bahkan biaya parkir

tabel 3

Tabel 3. Tabel Pengeluaran Berdasar Kategori

gambar 2

Gambar 2. Pengeluaran Berdasar Kategori

Luar biasa, ternyata selama satu tahun, untuk urusan perut saya menghabiskan 4.3 juta. Saya jadi berpikir ternyata perut ini butuh uang juga untuk bisa survive. Kemudian hampir 2 juta juga saya gunakan untuk berbelanja, hasilnya saya lebih bisa modis lah dibanding zaman SMA yang hanya mengandalkan celana training dan kaos puny bapak.

Dan yang mencengangkan adalah saya menghabiskan 1 juta untuk pendidikan, padahal seingat saya ya hanya print dan cetak saja haha. Dan tetooot, ternyata saya juga cukup dermawan untuk mentraktir teman saya bahkan mencapai 600 ribu selama satu tahun haha. Tentu klaim dermawan adalah klaim sepihak, ini juga pasti ada motif pemaksaan misal teman minta syukuran setelah terpilih mawapres, atau menang juara lomba, dsb.

Let’s make a calculation!

Well, this is the moment we are waiting for. Sekarang kita kalkulasikan pengeluaran selama 4 tahun. Katakanlah dari data valid selama 9 bulan, maka reratanya adalah sekitar Rp 1.274.000,00. Jumlah ini lebih besar dari pada support bulanan saya, jadi defisit. Tapi saya beruntung karena ada pemasukan dari scope lain. Alhamdulillah.

Here we go! Sekarang benar-benar kita total dengan kebutuhan yang lain :

tabel 4

Tabel 4. TOTAL

Seratus tujuh belas juta sembilan ratus lima puluh dua ribu! 100 juta pemirsa! 100 juta sudah saya menghabiskan uang selama 4 tahun.

Conclusion

Kesimpulan pertama, terlepas dari biaya saya ke Thailand dll, kalau di rata-rata setiap hari saya habiskan 40 ribu untuk biaya hidup, maka saya amat boros.

Pada akhirnya mari kita bermuhasabah sesuai Al-Hasyr : 18. “Hai orang-orang yang beriman, perhatikanlah apa yang sudah kamu kerjakan….”. Now y’all know kalau semua itu tidak murah. Terlepas dari rezeki saya mendapat beasiswa baktinusa, uang penghargaan mawapres dan lomba, ataupun sumber pemasukan lain, kita tetap harus sadar bahwa kuliah itu butuh biaya yanng tidak sedikit. Anda, apabila mendapat beasiswa bidikmisi ataupun beasiswa orang tua, Anda tetap harus bersyukur dan bertanggung jawab atas kuliah Anda. Di setiap gerak kita ada keringat yang menetes dari ikhtiar mereka. Dan di manapun kita berjalan, di pundak kita ada pengorbanan orang tua dan negara yang tidak sedikit. Semoga Allah SWT memberkahi langkahku, dan langkahmu. Aamiin

===

Kalau ada yang baca ini, boleh dong sharing biaya hidup kalian (krik krik krikk)

Advertisements