Pengalaman mendaki gunung saya dimulai sejak semester 1. Saat itu Brahmahardhika (Mapala Fakultas) mengadakan pendakian terbuka dalam rangka hari Kartini. Akhirnya saya yang belum memiliki pengalaman mendaki nekad saja untuk mendaftar, tentunya bersama beberapa teman satu jurusan. That was my very first experience. Pengalaman yang tidak terlupakan karena kami semua disambut badai saat mendekati puncak. Pengalaman yang berat ini membuat saya PD untuk mendaki gunung-gunung lain. “yang ada badai aja kuat, masa yang lain enggak” haha.

Sampai detik ini, sudah 7 kali saya mendaki berbagai gunung selama kuliah. Termasuk diantaranya Semeru dan Slamet. What an achievement, yeeey. Kalau boleh dibilang, sebenarnya kegiatan mendaki gunung bukanlah hobi saya, saya hanya menikmati saat-saat mendaki. Bisa melihat bintang yang luar biasa banyak (seriously, beda banget sama pemandangan bintang di kota karena biasanya masih ketutup awan), sunset, sunrise, lampu-lampu kota, langit biru, gelombang awan, kabut, suhu yang dingin, mendirikan tenda, dan masak+makan di tempat camp adalah momen yang luar biasa membuat rindu.

Teman-teman jangan berpikir bahwa mendaki gunung perlu skill petualang yang jago. Padahal tidak seperti itu. Saya pribadi sebenarnya hanya modal tahan untuk jalan kaki jauh. Ada tanjakan curam ya jalan pelan sekali, kalau capek ya istirahat. Maka dari itu memang dari dulu saya tidak pernah mendeklarasikan sebagai pendaki. Hanya penikmat saja.

Mendaki gunung itu sebenarnya seni mengalahkan diri sendiri. Seringkali sugesti untuk berhenti itu besar sekali. Rasanya seperti ingin berhenti dan sudah tidak kuat lagi. Tapi tekad untuk tidak kalah dengan diri sendiri dan ingin membuat pembuktian (kepada diri sendiri) lah yang menggerakkan kaki untuk terus melangkah.

Saat awal-awal mendaki, saya masih suka foto sana sini. Sedikit-sedikit cekrek, bawa tulisan untuk salam, dsb. Semakin ke sini ternyata lebih asik untuk mengurangi hal tersebut dan lebih menikmati perjalanan saat pendakian. Di puncak pun hanya foto seperlunya saja sebagai dokumentasi.

Saat di Mahameru (puncak Gn. Semeru) juga momen yang tidak terlupakan. Summit dari jam 1 pagi dan baru sampai puncak pukul 6 pagi. Jalur yang berkerikil dengan kemiringan yang luar biasa curam membuat rasanya lamaaaaaa sekali. Puncak Mahameru adalah tempat yang sangat baik untuk mengevaluasi diri. Manusia dengan segala kesombongannya saja masih tertatih untuk mendaki gunung, padahal dulu gunung mengaku tidak menyanggupi saat ditunjuk untuk menjadi khalifah. Lantas apa yang bisa kita sombongkan?

Akhirnya saya sholat dan melantunkan Surat Al-Hasyr : 18-24 di Puncak Mahameru. Surat ini mengajarkan kita untuk bermuhasabah. “… hendaklah setiap diri memperhatikan yang telah diperbuatnya untuk hari esok…”. Indah dan syahdu bukan?

Ingin sekali suatu saat nanti mendaki bersama istri. Sampai puncak ataupun tidak bukan masalah, momen kebersamaannya adalah yang utama. Maukah, (entah siapapun) kamu?

Advertisements